“Generousity is about the heart not about what you have. You can be generous in many things”
Setiap orang bisa menjadi pemberi yang baik. Karena kemurahan hati adalah masalah hati dan bukan masalah harta. Orang yang memiliki banyak harta belum tentu bisa menjadi pemberi yang baik. Sebaliknya, mereka yang masuk dalam golongan miskin, bisa memberi karena kaya dalam hati. Definisi yang paling tepat untuk orang kaya adalah orang yang banyak mengucap syukur dan sedikit memiliki keinginan. Kebenaran ini membuat kita sadar bahwa setiap orang bisa menjadi orang kaya. Dan salah satu tanda bahwa orang itu sudah menjadi kaya ialah saat menyadari bahwa ia telah diijinkan memiliki lebih dari cukup sehingga berani berbagi dengan mereka yang kekurangan. Sedangkan mereka yang mengaku kaya tetapi kikir, sebenarnya masih belum kaya, karena ia masih merasa kurang.
Mari kita belajar dari seorang janda yang datang ke rumah ibadah dengan uang recehan yang ada di dalam dompetnya. Saat uang itu dipersembahakan ia tidak punya pilihan lembaran mata uang, baik yang warna merah, biru, bahkan hijau. Sisa harta recehan itu yang ada, dan ia berikan semuanya. Ia memberi dari kekurangan bukan kelebihan. Di hadapan bendahara rumah ibadah, ia tidak masuk dalam hitungan. Mungkin namanya juga tidak masuk dalam daftar penyumbang karena nilai persembahannya tidak bermakna. Namun di hadapan Tuhan yang maha Pemurah, ia masuk dalam golongan yang luar biasa. Ia memberi dengan hati, bukan hanya dengan harta.
“Ia melihat juga seorang janda yang sangat miskin, memasukkan dua keping uang tembaga. Lalu Yesus berkata, “Dengarkan: janda ini memasukkan lebih banyak dari semua yang lain. Sebab mereka semua memberi dari kelebihan hartanya. Tetapi janda ini, sekalipun sangat miskin, memberikan semua yang ada padanya yang diperlukannya sendiri untuk hidup.” Lukas 21:2-4
Kemurahan hati adalah masalah sikap bukan jumlah harta benda. Oleh karena itu setiap orang yang punya hati bisa bermurah hati. Untuk bisa bermurah hati, ia harus pernah mengalami kemurahan dari Tuhan dan sesama. Saya belajar kemurahan hati dai sahabat saya di Yuma, Arizona. Setiap kali saya pelayanan di gerejanya, ia memperlakukan kami seperti raja. Mulai dari antar jemput dengan mobil yang terbaik, akomodasi di hotel yang temegah hingga hal hal yang terkecil. Teman saya ini pernah terbang dari Arizona untuk menjenguk saya di rumah sakit saat saya opname di Glen Eagle Hospital Singapore. Dari dialah saya belajar bahwa setiap orang bisa belajar dari orang lain tentang kemurahan hati. Everybody can be generous.
Saya pernah mendengar tuan Pelit yang bernazar, “nanti kalau uang saya sudah banyak saya akan beramal untuk fakir miskin. Demikian juga kalimat kang Tukiman “Doakan saya pak, semoga minggu ini nomer Togel saya nembus, nanti saya bantu beli semen untuk bangunan gereja.” Entah sudah berapa banyak orang berjanji seperti itu dan biasanya tidak ditepati. Yang jelas kalau mau memberi tidak usah pakai kalimat NANTI. Karena kalau kita jujur, hari ini kita juga bisa memberi. Tidak mesti harus dengan uang atau harta. Anda bisa keluar dari rumah dan memberikan senyum kepada yang lewat di depan Anda. Siapa tahu senyum Anda adalah satu satunya yang ia dapatkan sepanjang hidupnya. Berikan kata dorongan untuk mereka yang sedang kecewa. Berikanlah kehangatan untuk mereka yang sedang sekarat kedinginan karena udara musim gugur. Untuk menjadi seorang pemurah kita bisa mulai saat ini juga. Mulailah sekarang!!!!!









