HANYA gara-gara urusan tertawa, dunia kesehatan sempat dibuat heboh. Konon, aktivitas ini dapat memperpanjang harapan hidup. Tertawa, seperti juga menangis, merupakan bagian dari spektrum emosi yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia yang meliputi kesedihan, kegembiraan, ketakutan, cinta kasih, kebencian, dan kemarahan.Kasus Norman Causins, mantan Redaktur Saturday Review di AS, yang termuat dalam buku An Anatomy of Illness, mungkin menarik untuk disimak. Norman menderita penyakit aneh dan langka. Ia tersiksa dan merasakan sakit luar biasa, meskipun hanya menggerakkan sebagian tubuhnya. Buntutnya, karena rasa sakit tersebut, ia mengalami insomnia. Kemudian, atas persetujuan dokter yang merawatnya, Norman mengganti semua obat yang diminumnya dengan banyak tertawa plus minum vitamin C.
Berbagai film komedi ia tonton, hingga tertawa terbahak-bahak dengan bebas. Pada hari kedelapan setelah menjalani terapi tertawa itu, ia sudah bisa menggerakkan jempolnya tanpa rasa sakit. Belakangan diketahui, tertawa selama 10 menit bisa membuatnya tidur pulas selama 2 jam. Alhasil, penyakitnya berangsur sembuh, kemudian lenyap sama sekali.
Lingkaran bergema
Tertawa memang bisa mengurangi peredaran dua hormon dalam tubuh, yaitu eniferin dan kortisol, yang bisa menghalangi proses penyembuhan penyakit. Sementara itu, dalam risetnya, dr. Rosemary Cogan dari Texas Tech University menemukan bukti bahwa rasa nyeri atau sakit akan berkurang setelah tertawa.
Hanya, pada dasarnya, tertawa itu sehat kalau dilakukan orang-orang yang normal. Kalau tawa itu muncul dari bibir seorang penderita gangguan jiwa, maka dengan sendirinya jadi tidak sehat, karena tawa itu untuk bereaksi terhadap halusinasi akan perasaan yang tidak-tidak. Pada orang normal, sebetulnya tertawa merupakan reaksi terhadap keadaan krisis, berupa suatu perubahan yang tidak terduga. Kondisi itu bisa tercetus dalam keadaan yang mengagetkan, menyenangkan, atau menyedihkan. Krisis itulah yang membuat orang bisa tertawa.
Aspek-aspek emosi, termasuk tertawa, diatur oleh pusat emosi di dalam struktur otak yang dinamakan sistem limbik (limbic system). Sistem yang juga berhubungan dengan aspek-aspek tingkah laku tertentu ini berbentuk seperti lingkaran, sehingga pakar kesehatan, Papez, menamainya lingkaran bergema.
Papez menemukan hal ini karena ketika intinya dirusak, orang yang bersangkutan menunjukkan kekacauan emosi. Artinya, secara tak sengaja orang ini bisa marah, tapi gampang pula terbahak-bahak walaupun tak ada yang lucu. Itu karena lingkaran yang juga merupakan pusat emosi manusia itu terputus. Kalau salah satu bagian dari lingkaran itu rusak, memori orang itu juga akan hilang. Itu pulalah yang terjadi pada orang pikun, karena salah satu bagian lingkaran ini rusak.
Guna mencari bukti lebih kuat tentang manfaat tertawa bagi kesehatan, dr. Cogan melakukan studi eksperimental terhadap mahasiswa. Terbukti, mereka yang memiliki rasa humor memperlihatkan peningkatan kemampuan dalam menahan sakit. Menurut dr. Willai Fay dari Universitas Stanford, tertawa terbahak-bahak akan bermanfaat bagi orang sehat dan berefek memanjangkan usia. Hasil penelitiannya menunjukkan, tertawa terpingkal-pingkal akan menggoyangkan otot perut, dada, bahu, serta pernapasan, sehingga membuat tubuh seakan-akan sedang joging di tempat. Setelah tertawa seperti itu tubuh akan lebih tenang dan rileks, sama seperti orang habis berolahraga. Tertawa juga akan melatih diafragma torak, jantung, paru-paru, perut, dan membantu mengusir zat-zat asing dari saluran pernapasan. Di samping itu, tertawa sangat ampuh untuk meringankan sakit kepala sakit pinggang, dan depresi.
Ihwal dampak tertawa dalam menyembuhkan penyakit, dr. Willian Frey, pakar biokimia dan Direktur Dry Eyes and Tears Research Center di Minneapolis, AS, menyatakan tertawa akan menggerakkan bagian dalam tubuh, mengaktifkan sistem endokrin, sehingga mendorong penyembuhan penyakit. Tertawa akan merangsang otak untuk memproduksi hormon tertentu yang pada akhirnya akan memicu pelepasan hormon endorfin (zat pembunuh rasa sakit) yang diproduksi oleh tubuh. Karena dianggap dapat memberikan dampak positif, maka kini banyak dokter menerapkan terapi tertawa dalam proses penyembuhan para pasien.
Meski dianggap baik, tak semua tawa itu menyehatkan. Ada tawa yang genuine (asli atau tulus), ada yang palsu, ada juga yang sekadar berbasa-basi. Tawa palsu atau basa-basi tak berefek apa pun pada kesehatan. Sebaliknya, tertawa pada proporsi yang benar berpotensi menjauhkan penyakit, dan efeknya memperpanjang harapan hidup. Namun, hati-hati, jangan tertawa secara overdosis, karena ini justru bisa menganggu kesehatan.***
Dra. Dessy Rikara, Apt.
Pemerhati masalah kesehatan, alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya









