”BILL Clinton membangunkan aku, Sabtu pagi, 15 Agustus 1998. Ia tak duduk di tepi ranjang seperti biasanya, tapi mondar-mandir di seputar kamar. Pikirannya kalut, karena ia harus memberikan pengakuan di depan televisi nasional tentang hubungan intimnya dengan Monica Lewinsky, gadis pekerja magang di Gedung Putih.
”Selama ini, Bill tidak mau berterus terang karena malu, dan ia tahu hatiku bakal terluka dan marah. Napasku tiba-tiba terasa berhenti. Saat menarik napas panjang, tangisku meledak dan aku berteriak histeris: ‘Apa maksudmu? Kenapa kamu bohong?’ Aku pun tak bisa menahan amarah.
”Sementara Bill Clinton tetap berdiri di ujung kamar, sambil berulang-ulang meminta maaf. ‘Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku bermaksud melindungimu dan Chelsea (putri tunggalnya –Red.),’ kata Bill kala itu.”
Pengakuan pahit Bill Clinton itu diceritakan kembali Hillary Clinton dalam buku terbarunya, Living History, yang diluncurkan Senin pekan lalu.
Buku seharga US$ 28 (sekitar Rp 300.000) itu laku keras. Dalam sehari saja terjual 200.000 eksemplar, melebihi penjualan buku laris seperti serial Harry Potter yang rata-rata seminggu cuma 100.000 buku. Diperkirakan, dalam pekan-pekan berikutnya, penjualan buku memoar tersebut bakal melaju.
Jajak pendapat Universitas Quinnipiac, Connecticut, menunjukkan, tiga perempat dari 285 rakyat Amerika Serikat setidaknya pernah mendengar atau membaca Living History. Faktor utama yang mendorong buku setebal 562 halaman itu laris manis, karena penulisnya Hillary Clinton.








