Tindakan memberi memang mendatangkan kebahagiaan karena dengan memberi, kita sedang membersihkan hati dari ketamakan. Orang yang tamak atau serakah, sering lupa dengan apa yang sudah dimiliki. seringkali dibalik keserakahan bersembunyi rasa takut kekurangan. Ketika orang takut melarat, mereka akan menghalalkan segala macam cara untuk mengumpulkan. Manakala perasaan tidak cukup sudah menguasai hati, maka semua tenaga dan pikiran akan dikerahkan untuk bisa mendapatkan lebih.
Ada seorang pengusaha muda yang beranama dipanggil dengan nama tuan Bodoh, saya panggil dia tuan Bodoh karena Yesus menyebutnya sebagai Orang Kaya Yang Bodoh. Di manakah letak kebodohan pemuda ini? Ia sudah memiliki banyak, tetapi masih merasa kurang. Ia memiliki segalanya tetapi tidak pernah menikmati, memiliki lebih tetapi tidak pernah berbagi dengan kaum papa. Ia membiarkan pikirannya dikuasai oleh ketakutan akan hari besok sampai lupa memaksimalkan hari ini.
Orang yang serakah biasanya menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan lebih. Tidak sedikit dari mereka berani ngembat, ngutil, mengeruk atau ngrampok harta orang lain. Orang serakah tidak peduli dengan penderitaan orang lain. Bahkan demi keserakahannya mereka dengan rasa tidak bersalah membunuh hak dan nyawa orang lain. Mereka tega menindas orang lemah dan yang kurang beruntung. Keserakahan mengakibatkan ketidak adilan, penindasan, pelecehan dan pertumpahan darah.
Saya pernah melihat di layar TV demonstrasi kaum miskin penerima Bantuan Langsung Tunai yang jatahnya disunat oleh aparat yang notabene sudah hidup lebih dari cukup. Bebarapa tahun yang lalu banyak pedagang pasar yang kehilangan mata pencahariannya karena tempat berjualannya akan dibangun super mall yang dimiliki oleh konglomerat.
Rasul Paulus pernah mengatakan kepada Timotius untuk memberikan awasan kepada mereka yang mata duitan atau cinta uang. Cinta uang adalah akar dari segala kejahatan. Oleh karena itu kita ini harus waspada supaya tidak mudah terjerat dengan jebakan ini.
Yang namanya manusia terkadang tidak mau belajar dari contoh contoh yang sudah jelas terjadi didepan mata. Berapa banyak orang yang menderita akibat keserakahan hidup? Coba simak kisah seorang petani miskin di sebuah kampung di negeri India. Sebagai seorang petani yang miskin, kelaurga Biju memang tergolong hidup menderita. Keempat anaknya tidak bisa sekolah dan istrinya begitu menderita karena sakit parah. Sapi dan sawahnya sudah sebagian terjual untuk beaya pengobatan.
Pada satu hari Biju memutuskan untuk pergi semedi meminta kekayaan supaya bisa bebas dari nestapa kemelaratan. Dalam keadaan semedi tida tiba ia didatangi oleh seorang Dewa yang siap mengabulkan permintaan petani miskin ini. Tanpa pikir panjang Biju langsung mengatakan :”Sang Dewa, berikanlah saya emas sebayak banyaknya supaya saya bisa menjadi kaya.” Sang Dewa menjawab:”Pulanglah sekarang dan siapkalah sepuluh ember kosong di dalam rumah, maka besok malam jam 12, kamu akan mendapati emas di dalam ember itu.”
Biju tidak sabar lagi untuk melihat emas yang dijanjikan, hari itu ia langsung mengumpulkan sepuluh ember di dalam kamar tidurnya. Malam itu sebuah keajaiban terjadi di rumah petani miskin itu. Sembilan ember kosong itu tiba tiba penuh dengan emas, dan hanya satu ember yang isinya hanya setengah saja.
Mata Biju dan seluruh anggota keluarganya terbelalak melihat mujizat itu. Mereka kagungm, gembira dan menangis karena dengan tiba tiba mereka menjadi orang yang kaya raya. Namun sayang kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
Ketika biju melihat ember yang ke sepuluh yang hampir dipenuhi dengan emas, ia berdoa dalam hati ”Seandainya ember yang kesepuluh itu penuh dengan emas seperti ember yang lain maka keluarga kita akan lebih bahagia”. Ia kembali ke gua meminta kepada Sang Dewa supaya memenuhi ember yang ke sepuluh. Tetapi malam itu tidak ada suara atau jawaban. Akhirnya ia pulang dengan kecewa. Sementara itu dalam perjalanan ia berfikir untuk menjual sapi dan sawahnya untuk membeli emas supaya embernya segera penuh. Namun sayang ember itu tidak kunjung penuh dengan emas. Sang petani yang serakah itu akhirnya tega menjual keempat anaknya untuk beli emas dan terakhir ia menjual rumahnya. Namun sayang ember yang kesepuluh tetap tidak penuh dengan emas.
Keserakahan selalu membawa penderitaan. Oleh karena itu marilah kita belajar berbagi dan beryukur atas nikmat yang Tuhan berikan dalam hidup ini. Bersyukurlah dengan apa yang sudah anda miliki dan jangan membandingkan diri dengan orang lain. Cukupkanlah dengan apa yang ada. Ibadah yang disertai dengan rasa cukup itu besar manfaatnya.








