“Memang baik kalau bisa jadi orang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik”
Kata kata bijak di atas telah memberkati saya. Terkadang kita terobsesi untuk jadi orang penting. Orang berlomba lomba untuk untuk duduk di kursi (VIP) atau dianggap penting. Namun sayang tidak sedikit yang telah mengabaikan kebaikan gara gara ingin jadi orang penting. Menjelang PEMILU kita dikejutkan dengan begitu banyak dermawan kagetan yang bagi bagi sembako, atau kaos. Mereka tiba tiba melakukan kebaikan untuk kepentingan. Memang orang bisa pura pura berbuat baik untuk mencapai tujuannya.
Untuk menjadi orang baik tidak mesti harus jadi orang penting duluan. Kebaikan bisa lahir dari hati setiap manusia. Sejahat jahatnya orang atau kriminal, masih ada kebaikannya, dan sebaik baiknya orang masih ada kelemahannya. Kita diminta berbuat baik kepada siapapun yang memerlukannya tidak pandang ras, suku dan agama. Kebaikan itu seperti bumerang. Ketika kita berbuat baik, maka kita akan juga menerima kebaikan.
Berbuat baik untuk anak yatim, kaum papa, dan mereka yang melarat merupakan tindakan yang terpuji. Firman Tuhan mengatakan bahwa berbuat baik untuk orang lemah itu membuat Tuhan berhutang kepada kita. kalau Tuhan berhutang, pasti akan dibayar. Ketika kita menyantuni anak yatim, para janda, kaum papa dan mereka yang tersisih, kita sedang melakukan apa yang ada di dalam hatinya Tuhan. Kebaikan itu bisa mengusir kegelapan. Kebaikan bisa membuat orang tersenyum dan kitapun bahagia karena telah membahagiakan orang lain. Kapan terakhir kali anda berbuat baik?
Lewat rubrik ini saya mengajak pembaca sekalian untuk melakukan kebaikan bagi mereka yang memerlukan. Marilah kita menyelamatkan anak anak yatim pitu karena agama yang murni dan berkenan kepada Allah adalah dengan menyantuni mereka. Masih ada dua juta anak yatim di Indonesia yang memerlukan uluran tangan kita.










