Albert Schweitzer (1875 - 1965)
Mengolah gairah hidup atau passion itu sangat penting, ketika kita tidak bisa mengelolanya bisa bisa kita tidak akan sampai ditujuan dengan baik. Mungkin gambaran yang paling baik untuk menjelaskan kebenaran ini adalah seorang sopir yang kurang ahli memainkan gas atau accelerator. Jika gas ditekan terlalu kencang, mobil bisa keluar dari jalan atau menabrak. Sebaliknya ketika gas ditekan terlalu ringan, mobil menjadi lambat dan lama sampai ditujuan. Dan seandainya gas tidak diinjak sama sekali, walapun mesin mobil bagus dan bahan bakarnya penuh maka mobil tidak berjalan.
Saya pernah bertemu dengan orang yang kehilangan gairah hidup. Wajahnya muram, penamilannya amburadul, sorot matanya kosong dan kurang komunikatif. Tidak sedikit orang yang bosan hidup berfikir untuk bunuh diri. Sebaliknya saya juga pernah brtemu dengan orang yang gairah hidupnya menyala nyala, saking menyalanya ia tidak tahu yang mana yang harus dikerjakan lebih dahulu. Gairah hidup tanpa disertai dengan managemen yang baik bisa membuat kita jalan di tempat. Terlalu banyak semangat tetapi kurang hikmat malah mendatangkan maksiat.
Ibu Hana baru saja mendengar khobah tentang memberi. Sang pengkhitbah meman berapi api dalam menyampaikan Firman Tuhan. Dia mengutip ayat ayat Firman yang menggugah hati apalagi sang pengkhotbah mengatakan “Apabila saudara memberi untuk pekerjaan Tuhan maka Tuhan akan mengembalikan pemberian saudara 100 kali lipat.” Tanpa pikir panjang Ibu Hana menyumbangkan uang 50 juta untuk pekerjaan Tuhan, karena percaya ia akan mendapatkan 100 kali lipat. Pemberian uang itu berujung pada pertengkaran rumah tangga. Rupanya sang suami tidak diberitahu lebih dahulu dan tidak dilibatkan dalam pembuatan keputusan. Tentu saja suami naik pitam dan langsung menelpon sang Gembala sidang meminta uang sumbangan itu dikembalikan karena itu adalah uang modal usaha. Gairah memberi ibu Hana memang baik namun tidak dibarengi dengan hikmat sehingga mendatangkan malapetaka dalam rumah tangga.
Dalam hal mengelola passion atau gairah, terkadang dibutuhkan orang lain. Karena begitu semangat ingin cepat sampai ditujuan, sering kali kita terlena. Dan begitu asyik dengan perjalanan sehingga lupa mengurangi kecepatan. Untung saja ada penumpang yang mengingatkan, kalau tidak ada, mobil akan mengalami celaka dan semua penumpang akan menderita.
Seorang pemain sepak bola harus bisa mengelola gairah atau semangat bertanding. Semangat bertanding mulai melemah ketika kalah. Disitulah diperlukan sorak sorai pendukung supaya bisa menghidupkan semangat pemain pujaannya. Tidak heran jika dalam sebuah pertandingan kita mendengarkan yel yel, sorak sorai maupun nyanyian pembangkit semangat. Peran seorang teman sangat pennting dalam perjalanan hidup ini. Karena ketika kita jatuh, teman akan menopang kita untuk bangkit.
Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya teman? Nasehat saya adalah, segera mencari teman. Karena sahabat sejati itu bisa menambah sukacita dan mengurangi dukacita. Bagi saudara yang sedang mengalami “putus asa” kehilangan gairah dalam pekerjaan atau pelayanan segeralah datang kepada Tuhan karena Tuhan bisa memulihkan jiwa kita sehingga semangat hidup kan kembali. SELAMAT MENGELOLA GAIRAH HIDUP. WASPADALAH JIKA GAIRAH HIDUP MULAI MEMUDAR.








