Jarak antara mulut degan hati hanya duapuluh centi meter. Namun sayang kadang kadang antara hati dengan mulut tidak nyambung alias konslet. Hati bilang A tetapi mulut bilang C. Hati maunya ke kanan tetapi mulutnya suka ke kiri alias tidak singkron. Dalam terminologi sekarang, orang macam itu disebut tidak konsisten. Pernahkan anda berjumpa dengan orang yang dengan ramah menyapa dan memuji anda tetapi dibelakang ngomongin, nggosipin dan merencanakan yang jahat. Orang orang macam ini sangat kasihan, karena mereka sedang menderita penyakit hati yang namanya moral disorder alias kebingungan moral.
Kalau penyakit ini dibiarkan maka mereka mengalami spiritual disorder kronis. Ciri cirinya mereka tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang halal dan mana yang haram. Hati nuraninya sudah soak, sehingga tidak lagi merasa bersalah ketika hati dan mulut sudah tidak lagi konsisten. Orang orang ini sering disebut munafik. Mereka adalah orang yang bodoh karena mereka sedang menipu kawannya, menipu Tuhan dan bahkan menipu diri sendiri. Menyimpan kebohongan itu sama dengan menyimpan udang busuk. Sepandai pandainya anda membungkus udang busuk lambat atau cepat pasti akan tercium. Mulut yang membual, atau serong atau bohong itu merupakan kekejian bagi Tuhan. Rasul Yohanes pernah mengatakan:”If anyone says, ‘I love God’,and he hates his brother, he is telling a lie. If he does not love his brother whom he has seen, how can he love God whom he has not seen?” I Yoh 4:10
Denga kata lain, kalau kita mengaku bahwa kita mengasihi Allah, maka kita harus melakukan perintahnya. Salah satu perintahnya ialah kasihilah saudaramu seperti dirimu sendiri. Ia juga memerintahkan kita untuk mengasihi musuh. Jadi kalau kita mengaku dalam hati bahwa kita mengasihi Allah, tetapi dari mulut dan kelakuan membenci, maka kita disebut sebagai pembohong. Kebohongan adalah kekejian di mata Tuhan.
Lebih jauh lagi rasul Yohanes mengatakan kalau dengan saudara yang kelihatan saja kita tidak bisa mengasihi, bagaimana anda mengasihi Allah yang tidak kelihatan? Analogi ini sangat singkat dan mengena. Kalau dengan yang kasad mata kita tidak bisa jujur, bagaimana dengan Tuhan yang tidak kelihatan. Kalau dengan istri saja tidak bisa jujur, bagaimana dengan majikan? Kalau dengan yang dekat saja sudah tidak akur bagaimana dengan tetangga jauh. Pokoknya konsistensi antara hati mulut dan perbuatan adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini.
Kembali pada masalah hati dan mulut. Ketika mulut kita tidak mencerminkan kata hati yang sebenranya, yang terjadi adalah pembohongan batin. Kalau dibiarkan akan membebani batin. Menyimpan kebohongan akan melahirkan kebohongan. Marilah kita semua menjaga konsistensi antara apa yang kita pikirkan dan kita ucapkan. Selamat berjuang.









