“A
na
me is more desirable than great wealth. Respect is better than silver or gold.” (Amsal 22:1)
Kebenaran di atas adalah kebenaran yang seharusnya dipraktekan oleh setiap anak Tuhan. Raja Salomo bukan asal tulis ketika menyatakan bahwa nama baik lebih berharga dari kekayaan. Ia punya keduanya, Salomo adalah raja terkaya dan namanya masyur sampai hari ini. Lalu apa yang membuat sang Raja menulis ayat tersebut? Beberapa hal berikut ini perlu direnungkan supaya tidak terjebak karena salah memilih.Kalau disuruh memilih antara nama baik atau harta, nampaknya sebagian besar akan memilih harta dan mengabaikan nama baik. Kelompok ini punya alasan yang kuat: NAMA BAIK BISA DIBELI.
Hartono sudah dikenal sebagai orang kaya yang menghalalkan segala macam cara. Kedoknya sudah diketahui oleh rekan rekan bisnisnya. Dia kotor dalam berbisnis, serakah dan suka main suap. Hartono punya filosofi bahwa uang adalah segala galanya. Pokoknya siapa punya uang ialah yang akan menang. “Tidak usah pusing dengan reputasi atau nama baik,” Katanya sinis. “Memangnya dengan nama baik kita akan hidup bahagia?” Pertanyaan sinis itu sering keluar dari mulutnya. Belakangan ini nama Hartono menghiasi koran koran lokal dan nasional, bahkan wajahnya masuk dalam daftar pengusaha nakal yang sekarang mendekam di hotel prodeo.
Di dalam penjara itulah Hartono mengalami turning poin atau titik balik dalam memandang kehidupan. “Apa gunannya memiliki harta, jika saya tidak menikmatinya?” Apa untungnya menjadi orang paling kaya, tetapi tidak punya teman. Ternyata kekayaannya tidak bisa membeli nama baiknya? Nama baik itu didapat dari perbuatan baik bukan dengan membeli. Dan untuk berbuat baik tidak mesti harus menjadi kaya lebih dahulu. Mengorbankan nama baik dengan berbuat tidak baik merupakan kesalahan pilihan dalam hidup.
Ketika Salomo diberi pilihan anatara hikmat atau harta kekayaan, ia memilih yang pertama. Alasanya sederhana; dengan hikmat ia bisa mengumpulkan kekayaan, sementara kekayaan belum tentu bisa membeli hikmat. Hikmat bisa membuat orang mendapatkan nama baik, karena hikmat membuat orang takut akan Tuhan. Bukankah takut akan Tuhan sebagai awal dari segala pengetahuan? Memilih kekayanaan dan mengabaikan nama baik adalah tindakan yang tidak berhikmat.
BELAJARLAH DARI ZAKEUS
Ia terkenal bukan karena postur tubuhnya, tetapi kelakuannya sebagai pemungut pajak yang suka pungli (pungutan liar). Secara materi Zakeus memang kaya raya, tetapi hidupnya terkucil. Di mata tetangganya, ia adalah pengkhianat karena ia suka memeras orang sebangsanya demi penguasa penjajah. Saya tidak tahu mengapa Zakeus begitu terobesesi menjadi orang kaya, mungkin ingin menutupi penampilan tubuhnya yang pendek atau hanya sekedar ingin memaskan nafsu serakahnya. Yang jelas Zakeus telah mengorbankan nama baiknya demi mengejar kekayaan.
Mendongkrak nilai harga diri dengan harta benda bisa membawa orang melakukan hal hal yang kurang terpuji. Orang seperti Zakeus, perlu segera berjumpa dengan Yesus. Perjumpaan itu bisa membawa pencerahan dan penyadaran diri. Di mata sang Pencipta, harga diri kita tidak tegantung dari apa yang kita miliki. Ingatlah bahwa semua manusia lahir dengan telanjang, dan akan kembali ke alam baka dengan telanjang. Tidak ada satupun manusia yang lahir dengan memegang kartu ATM atau deposito. Kalau tidak percaya, tanyakan kepada ibu yang melahirkan anda atau dokter yang menolong ibu anda. Kenyataan bahwa kita diijinkan lahir dalam dunia, sudah jelas bahwa kita berharga dimata Sang Pencipta. Harga diri kita tidak tergantung oleh berapa banyak kita memiliki, tetapi siapa yang memiliki kita.
Saya bersykur, Zakeus insaf setelah berjumpa dengan Yesus. Niat mengembalikan harta kepada mereka yang pernah diperasnya, merupakan bukti pembaharuan batin yang sedang terjadi. Ketika kita berjumpa dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita akan menyadari siapa diri kita yang sebenarnya.
TUHAN BISA MEMULIHKAN NAMA BAIK
Dapatkah Zakeus menebus nama baiknya di depan mata tetangganya? Saya tidak tahu dan saya tidak mau tahu karena itu bukan urusan saya. Yang saya tahu bahwa Tuhan bisa memulihkan nama baik. Raja Daud pernah dipermalukan oleh anak kandungnya yang bernama Absalom. Ia harus lari mengungsi dari istana sambil menangis. Di tengah jalan kerabat musuh lamanya mencemooh sambil melempari batu. Ia berjalan dengan sandal jepit meniggalkan istananya. “ya Tuhan betapa banyak lawanku dan banyak orang yang bangkit meyerang aku sambil mengatakan ‘rasain lo, Tuhan tidak lagi menolong kamu seperti dulu.” Tetapi Daud punya keyakinan bahwa suatu saat Tuhan akan memulihkan nama baiknya oleh karena itu ia mengatakan:”engkau yang mengangkat kepalaku”. Kalimat ini adalah kalimat iman bahwa Tuhan akan memulihkan Daud. Dan memang benar Tuhan memulihkan Daud.
Tidak ada istilah terlambat dalam perbaikan hidup. kalau kita sadar telah melakukan kesalahan dan membuat pilihan yang merusak, inilah saatnya untuk membaharui hidup. Datanglah kepada Tuhan dengan rendah hati. Akui kesalahan dan minta Tuhan memulihkan hidupmu. Selamat mencoba. Tuhan memberkati








