10 May, 2009
Orang Kaya Sesungguhnya: Orang yang Bisa Menikmati Hidup
“It is not what we take up, but what we give up, that makes us rich.”
(Henry Ward)
Yang membuat kita menjadi kaya adalah apa yang kita berikan dan bukan apa yang kita kumpulkan. Kata bijak Henry Ward memang sederhana tetapi sangat dalam. Selama ini saya menerima ajaran bahwa orang yang kaya adalah orang yang memiliki banyak dalam hidupnya. Saya memang dilahirkan dari keluarga miskin di sebuah desa yang miskin. Mentalitas miskin itu sempat merasuki pola pikir dan gaya hidup saya dimasa kecil hingga dewasa.
Saya teringat waktu saya masih kelas tiga SD, saya pernah ikut ayah bekerja sebagai kuli buruh bangunan jadi tukang kayu di daerah Klender-Jakarta Timur. Tugas saya setiap hari hanya masak nasi bersama dengan buruh buruh yang lain, tidur di atas kertas semen dan makan apa adanya. Hari yang paling menyenangkan adalah hari Sabtu, itulah hari gajian. Biasanya selesai gajian saya akan diajak jalan jalan beli nasi sama sayur lodeh, kemudian mempir beli es daluman. Hati saya senangnya bukan main. Saya masih ingat suatu malam saya menangis minta dibelikan celana panjang. Saat itu sisa gaji ayah saya tidak cukup untuk membeli sebuah celana panjang. Kemiskinan adalah bagian dari hidup masa kecil saya.
Ketika saya dibangku SD kelas enam, saya behasil mempunyai sebuah celana panjang pertama saya. Hati begitu bahagia saat itu. Maklum celana panjang satu satunya, sering dipakai dan jarang dicuci. Maklumlah.. orang miskin. Celana panjang itu dijahit oleh tetangga saya yang baik hati namanya Bambang Krebo. Mas bambang itu juga yang ngajari saya main guitar pertama kali.
Berhasil menikmati apa yang kita miliki merupakan sebuah prestasi hidup yang patut dimeriahkan. Alasanya sederhana, tidak semua orang yang memiliki banyak, bisa menikmati apa yang mereka miliki. Itulah sebabnya Raja Salomo mengingatkan kita bahwa nikmat itu berasal dari surga. Tanpa nikmat, harta benda tidak ada artinya.
NIKMAT HIDUP ADALAH PEMBERIAN ALLAH
“Aku tahu bahwa bagi kita tak ada yang lebih baik daripada bergembira dan menikmati hidup sepanjang umur kita. Sebaiknya kita semua makan dan minum serta menikmati hasil kerja kita. Itu adalah pemberian Allah.” (PKH 3:12-13)
Kitab pengkhotbah meyakinankan kita bahwa nikmat hidup adalah anugerah Tuhan. Untuk bisa menikmati hidup tidak harus menjadi kaya duluan. Saya sering mendengar orang berandai andai seperti ini:”Jalau saya jadi orang kaya seperti pak Abu Rizal Bakrie, pasti saya akan hidup bahagia.” Orang semacam ini biasanya tidak akan pernah bahagia, karena kerjaannya hanya berandai andai saja. Kebahagiaan adalah hasil penafsiran dan harus diupayakan. Apabila anda bisa menikmati apa yang anda miliki, maka anda tergolong orang kaya di dunia ini. Karena orang kaya sejati bukanlah karena memiliki banyak harta, tetapi karena mereka memiliki sedikit keinginan.
“Sebab itu aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada menikmati hasil kerjanya. Selain itu tak ada yang dapat dilakukannya. Tak mungkin ia mengetahui apa yang akan terjadi setelah ia mati.”








