24 Jun, 2009
ANTARA ORANG BIJAK DAN ORANG BODOH
Orang bodoh terus mengejar kesenangan; orang arif selalu memikirkan kematian. (Ecc 7:4 IBIS)
Salah satu perbedaan orang bijak dan orang bodoh menurut Salomo adalah tujuan hidup. Menemukan tujuan hidup adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Itulah sebabnya bukunya pak Rick Warren yang berjudul “Purpose Driven Life” begitu laris hingga menjadi Best Seller. Itu menunjukan betapa banyak manusia di dunia ini yang masih mencari cari tujuan hidupnya.
Waktu saya di bangku SMA, ada sebuah lagu yang pernah ngetop, bagian dari syair lagu itu adalah sebuah pertanyaan :”untuk apa aku dilahirkan?”. Tidak sedikit yang masih mengajukan pertanyaan semacam itu. Waktu kecil kita tidak pernah mengajukan pertanyaan semacam itu. Pertanyaan itu justru datang ketika kita memasuki masa remaja atau dewasa.
Kalau kita mau bertanya kepada khalayak ramai tentang tujuan hidup, mungkin jawaban mereka masuk dalam empat katagori ini: kekayaan, kedudukan, popularitas dan kenikmatan. Ketika ibu bertanya “kalau kamu besar, kamu mau jadi apa?” Saat itu di benak ibu pasti mengharapkan anaknya akan menjawab :”saya ingin jadi dokter, guru, atau insinyur.” Biasanya jawaban itu akan melegakan pikiran orang tua. Jawaban itu masuk dalam kategori “kedudukan atau popularitas.’’
Coba bayangkan kalau anak anda tiba tiba datang dan berkata :”Mama, saya tidak mau menjadi dokter, saya pingin jadi koruptor saja. Enak kerjanya tinggal duduk dan utak atik angka sudah bisa mengeruk kekayaan.” Permintaan itu bisa membuat ibu anda marah atau pingsan. Ibu anda akan kaget dan bertanya:”Darimana kamu dapat pikiran jahat macam itu? Koruptor itu kerjaannya maling uang rakyat, hukumannya berat. Apa sih senangnya jadi koruptor?”
Untuk anda yang sedang bingung memilih mau jadi “dokter” atau “koruptor”, sebaiknya anda memperhatikan apa yang dikatakan oleh orang paling bijksana dalam sepanjang sejarah manusia. “Orang bodoh terus mengejar kesenangan; orang arif selalu memikirkan kematian. (Ecc 7:4 IBIS)” Mengejar kesenangan duniawi semata, bisa membahayakan perjalanan hidup. Perjalanan hidup tidak selamanya menyenangkan. Kadang kadang kita harus menghadapi tikungan atau tanjakan. Ada banyak rintangan yang harus kita lalui. Bagi mereka yang hanya mencari kesenangan, biasanya tidak akan tahan menghadapi kesulitan.
Orang orang yang tidak siap menghadapi tikungan dalam kehidupan, biasanya akan selalu mencari jalan pintas supaya tetap senang ditengah kesulitan. Narkoba menjadi tempat pelarian sementara supaya tetap enjoy sekaligus nge fly. Orang orang ini tidak berani menghadapi kenyataan, mereka terbiasa hidup dalam fantasy. Para pencari kenikmatan hidup, terkadang menghalalkan segala macam cara. Mereka tidak menyadari bahwa sementara mereka bersenang senang, ada pihak lain yang meneteska airmata.
Berapa banyak para hidung belang yang suka mengumbar nafsu dan telah meninggalkan penderitaan. Perbudakan seks, aborsi, HIV AIDS dan penjualan anak adalah dampak dari perburuhan kenikmatan seksual yang telah menjadi komoditi hidup. Mereka mereka yang menuai kenikmatan, tidak pernah merasakan bagaimana nasib menjadi seorang bayi yang dibuang di tempat sampah atau diselokan? Pokoknya yang namanya pengejaran kenikmatan seringkali meninggalkan penderitaan pada piak yang lain.
Oleh karena itu marilah menjadi orang yang arif. Orang yang bijak telah membiasakan diri dengan sikap “always begin with the end in mind”. Mereka memikirkan “apa jadinya nanti jika”. Apa jadinya jika saya menindas orang miskin? Apa jadinya jika saya menabrak norma agama? Apa akibatnya jika saya mengkhianati cinta istriku yang setia?
Selalu melihat hasil akhir, adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Termasuk memikirkan bagaimana kita akan mengakhiri perjalanan hidup ini. “Lebih baik akhir suatu perkara daripada permulaannya; lebih baik bersabar daripada terlalu bangga.” (Ecc 7:8 IBIS) Banyak yang memulai dengan cemerlang, namun mengakhiri dengan buruk. Bagi seorang pelari maranathon, yang penting bukanlah saat memulai di garis start, tetapi bagaimana bisa mengakhiri di garis finish. Yang jelas saya ingin sekali mengakhiri hidup sengan kondisi sangat baik seperti ucapan rasul Paulus “Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis finish”. START GOOD, STAY STRONG AND FINISH WELL.








