Saya masih ingat di masa kuliah, terkadang kami berandai andai tentang kebahagiaan. ”Hidup saya akan bahagia jika saya sudah tamat dan menyandang gelar sarjana.” Kalimat semacam itu sering terucap dari mulut kawan kawan. Terkadang kita secara tidak sengaja melakukan pengamatan diam diam dan membuat sebuah harapan dengan pengandaian. Melihat bapak dosen yang istrinya cantik, muculah harapan;”Seaandainya saya menikah dengan seorang wanita seperti ibu Tari, pasti hidup saya akan bahagia.” Secara tidak sadar, angan angan mulai melayang jauh dan kebahagiaan menjadi unachievable.
Belum lagi ketika menonton film kartun Cinderela yang akhir ceritanya setelah dipinang oleh pangeran tampan adalah happily ever after atau bahagia selamanya. Gambaran hidup bahagia selamanya setelah menikah akhirnya menjadi impian banyak orang. Tidak heran jika banyak orang yang cepat cepat memasuki pernikahan untuk segera mendapatkan kebahagiaan.
Tidak bisa di sangkal bahwa pernikahan memang bisa memberikan kebahagiaan. Untuk itulah Tuhan telah mendesainnya. Rasanya hidup ini tidak lengkap jika tidak punya pendamping hidup. Hidup sendiri bisa menjadi sebuah penderitaan. Itulah sebabnya “Wali” sampai bikin pengumumuman ke seluruh indonesia dengan lagunya
“…Ibu-ibu bapak-bapak. Siapa yang punya anak bilang aku , aku yang tengah malu sama teman-temanku. Karena cuma diriku yang tak laku-laku. Pengumuman-pengumuman siapa yang mau bantu tolong aku kasiani aku Tolong cari diriku kekasih hatiku. Siapa yang mau.”
Ada orang lugu yang pernah bertanya:”Kalau pernikahan memberikan kebahagiaan, mengapa banyak yang bercerai.” Bahkan menurut statistik yang up to date, satu dari setiap dua pernikahan berakhir dengan perceraian. Ada yang bilang kalau mereka yang bercerai itu karena salah pilihan atau salah menemukan jodohnya. Apapun alasaanya yang jelas inilah hukum kebahagiaan dalam pernikahan yang saya pelajari selama 20 tahun di sekolah pernikahan yang saya jalani dengan istri.
JODOH MEMANG ADA DI TANGAN TUHAN, TETAPI KEBAHAGIAAN ADA DI TANGAN KITA.
Sejak saya duduk di bangku SMP, saya sudah sering mendengar bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Meskipun sampai hari ini masih banyak yang belum mengerti makna kalimat itu secara utuh, namun banyak yang percaya bahwa masalah perjodohan memang Tuhan ikut campur tangan. Hal itu telah dibuktikan oleh Tuhan Yesus ketika menghadiri perjamuan nikah di desa Kana, sekaligus membuat mujizat air menjadi anggur. Namun kalimat jodoh ada ditangan Tuhan tidak berarti bahwa siapa saja yang telah mendapatkan jodoh berarti langsung bahagia.
Tuhan memang mengehendaki setiap orang akan hidup bahagia. Ia telah menciptakan semua yang diperlukan oleh manusia untuk hidup bahagia. Bahkan anakNya sendiri telah datang ke dalam dunia supaya manusia memiliki hidup yang penuh dan sukacita yang melimpah. Bukan hanya itu, Bapa di Surga bahkan telah mengirim Roh Penghibur agar mendampingi kita sehingga hidup kita sesuai dengan kehendakNya. Sekarang terserah kita, apakah kita mau menerima semua akses untuk menuju bahagaia atau tidak.
The most happy marriage I can imagine to myself would be the union of a deaf man to a blind woman. Samuel T.C.








