KEBAHAGIAAN PERNIKAHAN TIDAK JATUH DARI LANGIT.
Menikah di gereja tidak dijamin bahwa pernikahan Anda akan bahagia. Menikah dengan ustad, pendeta atau anak rohaniawan tidak berarti tanpa pergumulan. Kalau ada yang beranggapan bahwa pemberkatan nikah merupakan jaminan kebahagiaan itu tidak selalu benar. Fakta di lapangan menunjukan bahwa tingkat perceraian pasangan kristen tidak jauh beda dengan yang bukan kristen. Malahan di negara tertentu, tingkat perceraian pasangan yang menikah di gereja lebih tinggi dibanding dengan kelompok agama yang lain.
Tidak sedikit orang yang berangan angan, setelah upacara pemberkatan nikah selesai, maka akan ada paket kebahagiaan jatuh dari langit. Kebahagiaan dalam rumah tangga tidak jatuh dari surga ketika pasangan selesai diberkati atau didoakan. Kebahagiaan itu adalah hasil usaha bersama. Di dalamnya ada take and gave, penyesuaian, dan harmoniasasi kehidupan. Kerja sama antara suami istri dan keterlibatan Tuhan sangatlah penting.
Karena kebahagiaan pernikahan adalah hasil usaha kerjasama, makanya jangan sampai ada yang selalu mendompleng. Mendompleng kebahagiaan lewat pernikahan sama seperti seorang yang membonceng sepeda pancal yang tidak tahu aturan. Si pembonceng dalam kurun waktu tertentu akan menjadi beban. Ketika menaiki sebuah tanjakan, kearifan sang pembonceng sedang diuji. Kalau ia tetap membonceng di atas sepeda, maka kemungkinan besar sipenarik sepeda akan kecapaian dan pingsan kehabisan nafas. Cara yang paling aman dan bijak, si pembonceng turun dari dan mendorong sepeda supaya segera melewati tanjakan. Disinilah take and give harus dimainkan.
Mendompleng kebahagiaan dalam pernikahan bisa membuat partner kehilangan kebahagiaan. Sehebat hebatnya pasangan anda, ia adalah manusia biasa yang punya batas kesabaran. Dia bukan makluk yang maha sabar. Pada saat inilah, saling memberi perhatian, dorongan dan kasih sayang sangat diperlukan. Itulah sebabnya benar apa yang dikatakan oleh Allan .L ketika menuis kalimat ini: “All married couples should learn the art of battle as they should learn the art of making love. Good battle is objective and honest–never vicious or cruel. Good battle is healthy and constructive, and brings to a marriage the principle of equal partnership.” Semua pasangan yang sudah menikah sebaiknya belajar seni bertengkar dan seni bercinta. Karena pertengkaran yang obyektif dan jujur bisa mendewasakan dan membahagiakan pernikahan. Untuk terjadinya sebuah pertengkaran yang baik, dibutuhkan kerjasama yang baik dari keduabelah pihak.
Penulis yang lain mengatakan bahwa pernikahan yang bahagia adalah pernikahan antara istri yang buta dan suami yang budeg. . “The most happy marriage I can imagine to myself would be the union of a deaf man to a blind woman.” Maksud pak Samuel TC, bukan supaya kita membutakan mata atau membuat telinga tuli untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia. Makna kutipan itu adalah bahwa kita masing masing harus melakukan sesuatu supaya tercapai kedamaian hati dan kebahagiaan bersama. Ketika cinta dalam pernikahan mulai pudar dan kemesraan mulai hilang, suami istri harus segera berusaha untuk menghidupkan kembali dengan membangun komunikasi dan keakraban emosi. Pokoknya harus kerja sama. SELAMAT MENCOBA








