KEDEWASAAN DAN PASPOR KEBAHAGIAAN
Seorang konselor pranikah pernah mengatakan:”Menikah dengan orang yang dewasa rohani, berarti kita sudah mengantongi lima puluh persen kebahagiaan dalam pernikahan.” Awalnya saya tidak begitu yakin dengan pernyataan itu, namun dalam perjalanan sekoah pernikahan, saya menemukan bahwa kematangan mental rohani itu sangat berpengaruh dalam menciptakan kebahagiaan rumah tangga.
Menikahi seorang yang sifatnya masih kekanak kanakan sama saja seperti momong bayi-kasarnya sepert itu. Sesabar sabarnya babysitter, tetap saja ada batasnya. Dampak kekanak-kanakan seorang pasangan memang sangat berpengaruh dalam banyak hal. Kita bisa melihat banyak contoh dalam kehidupan nyata. Istri yang suka merengek rengek bisa menyebalkan hati suaminya. Demikian juga dengan suami yang suka mengeluh bisa menyakitkan hati istrinya. Dalam menejemen konflik dibutuhkan kedewasaan pasangan untuk menyelesaikan setiap permasalahan. Ketika salah satu pasangan tidak dewasa, maka persoalan bisa berlanjut begitu lama. Seorang istri yang selalu ingin dimanja pasi akan membosankan.
Salah satu tanda kekanak kanakan adalah sikap mau menangnya sendiri atau tidak pernah mau mengalah. Coba simak syair lagunya Seventeen ini:“Mengapa selalu aku yang mengalah . Tak pernahkah kau berfikir sedikit tentang hatiku. Mengapa ku yang harus selalu mengalah. Pantaskah hatiku masih bisa bersamamu”. Dalam syair ini sang pria sudah merasa tertekan, jenuh dan putus asa sehingga lebih baik tidak usah melanjutkan hubungan.
Berikut ini ada beberapa tanda tnda ketidak dewasaan yang bisa menghancurkan hubungan. Harapan saya jika benih ketidak dewasaan ini masih melekat dalam sikap hidup kita, maka marilah kita berusaha untuk mengatasinya.
SULIT BERKONSENTRASI SAAT BERKOMUNIKASI
Saya masih punya anak yang berumur delapan tahun. Timothy memang kadang kadang mudah berganti perhatian karena kemampuan untuk berkonsentrasi memang pendek, seperti anak anak yang lainnya. Ketika memngerjakan pekerjaan rumah, ia terkadang langsung main lego, sementara PR belum selesai. Kecenderungan untuk berganti perhatian yang begitu cepat bisa mengganggu hubungan.
Ketika istri sedang ngajak ngobrol dengan Anda, ia sangat mengharapkan perhatian Anda tercurah untuknya. Sikap tubuh dan sorot mata harus terarah kepadanya. Jika tiba tiba anda membaca koran, sementara istri masih curhat, maka istri anda akan marah karena Anda dianggap tidak peduli dengan istri. Usahakan berkonsentrasi saat itu. Jika anda mengalami kesulitan mendengarkan pasangan anda, mungkin anda memang punya masalah dengan kemampuan berkonsentrasi.
TERLALU MENGONTROL
“We are designed by God to control ourselves not each other. Mature couples support and enjoy each other’s freedom and choices”
Kita diciptakan sebagai makluk yang suka mengontrol diri sendiri. Kita tidak suka dikontrol oleh orang lain. Pasangan yang dewasa menimati dan mendukung kebebasan dan pilihan pasangannya. Oleh karenanya keinginan untuk menguasai dan mengontrol pasangan bisa membahayakan hubungan. Pasangan anda adalah pribadi yang memerlukan kebabasan dalam memilih atau menentukan kesukaannya. Biarkanlah istrimu atau suamimu menentukan warna dan selera pakaian atau jenis makanan. Selama pilihannya tidak berdampak negatif atau merusak, ijinkanlah ia memilih dalam kebebasan.
Jika suami terlalu mengontrol dan mendominasi, maka istri akan merasa terkekang. Manifestasinya bisa kemana mana. Ia bisa cuek, tidak peduli, suka menyendiri atau suka membrontak. Kalau hal ini dibiarkan maka hubungan cinta bisa terancam.
(bersambung…)









