Di dunia ini tidak ada tempat yang dibilang benar benar aman. Apalagi akhir akhir ini, yang namanya gempa bumi, banjir, tsunami, kebakaran, kekeringan, dan krisis global selalu menghiasi headline surat kabar atau televisi. Baru saja warga Tasik Malaya dikejutkan dengan gempa bumi, sebulan kemudian warga Nusa Dua dan Denpasar dibikin panik dengan guncangan 6,4 SR. Dua pekan kemudian warga Sumatera Barat dikejutkan oleh Gempa berkekuatan 7,4 SR. Ratusan nyawa melayang, ribuan rumah luluh lantak dan infra struktur yang hancur lebur.
Dalam keheningan ada sebuah pertanyaan :”Mengapa semua ini terjadi?” Apakah ini adalah sebuah peringatan atau sebuah hukuman dari Tuhan? Tidak sedikit yang melihat musibah ini sebagai sebuah bagian dari proses alam yang wajar dan tidak perlu diberi makna. Namun ada juga yang mengatakan bahwa setiap kejadian di dunia selalu ada maksudnya. Anda semua bebas menafsirkannya sesuai dengan keyakinan masing masing. Melalui artikel ini saya hanya mengajak Anda sekalian untuk belajar “tertawa dengan yang sedang tertawa dan menangis dengan yang sedang menangis”.
Dua hari lalu saya menelpon Pdt. Elia Ambarita yang berada di kota Padang. Hamba Tuhan ini mengisahkan betapa luar biasanya kuasa Tuhan yang telah menyelamatkan keluarganya dari bahaya. Menurut kesaksian beliau, Tuhan telah memberitahukan istrinya 10 menit sebelum gempa supaya keluar dari rumahnya. Dan benar, ketika mereka berada di luar terjadilah gempa yang menghancurkan rumah dan tempat ibadah mereka. Memang mereka merasa kehilangan rasa aman, namun ketika mereka melihat kebesaran Tuhan, mereka berkali kali bisa mengucapkan Puji Tuhan karena pertolongan Nya tepat pada waktunya.
Krisis tidak selalu jelek, tergantung bagaimana kita menafsirkannya. Krisis bisa menjadi titik balik dalam kehidupan seseorang. Tiga wanita yang selamat dari gempa dengan terus terang mengatakan bahwa gempa Padang merupakan turning point dalam hidupnya. Orang baru menghargai hidup kalau sudah dekat dengan kematian. Saya masih ingat ketika berada di tengah perang yang mengancam nyawa anak dan istri, saat itulah saya benar benar menysukuri kehidupan. Saat saat mendekati kematian bisa menjadi tugu peringatan (mile stone) yang bisa mengubahkan cara pandang.
Kriris adalah lahan yang paling subur untuk menumbuhkan iman. Ketika semua bergerak melawan kita, di saat itulah iman kita akan kelihatan aslinya. Semua yang kita miliki di dunia ini tidak ada yang kekal. Semua bisa berubah. Harta, nama, kedudukan, kejayaan semua bersifat fana. Belajarlah seperti nabi Ayub dalam hal iman. Dalam kondisi habis habisan, Ayub masih bisa memuji Tuhan. “Lalu berdirilah Ayub dan merobek pakaiannya tanda berdukacita. Ia mencukur kepalanya, lalu sujud dan berkata, “Aku dilahirkan tanpa apa-apa, dan aku akan mati tanpa apa-apa juga. TUHAN telah memberikan dan TUHAN pula telah mengambil. Terpujilah nama-Nya!” (Job 1:21 IBIS) John Maxwell pernah mengatakan “Satu satunya penghalang laju burung terbang adalah udara. Namun jika udara ditiadakan, maka menurut hukum aerodinamika, burung malah tidak bisa terbang.” Krisis memang bisa melemahkan iman, namun jika dalam hidup ini kita tidak pernah mengalami tantangan, maka iman kita tidak pernah bertumbuh.
Krisis adalah jendela untuk melihat mujizat. Percayakan Anda bahwa hampir semua mujizat dalam kehidupan dimulai dengan adanya krisis lebih dahulu? Sebelum umat Israel melihat laut Merah terbelah, mereka melihat bala tentara Firaun yang bengis dan siap melenyapkan nyawa mereka. Sebelum Panglima Naaman menerima kesembuhan, tubuhnya dihinggapi penyakit lepra. Sebelum Lazarus dibangkitkan dari kubur, dia mengalami kematian. Sebelum janda Sarfat mengalami kelimpahan, ia mengalami krisis kekurangan. Marilah kita melihat setiap krisis dengan kacamata yang benar, supaya krisis yang kita alamai segera akan membuahkan mujizat. Pokoknya, tetap tabah, tetap berdoa dan jangan menyerah.









