“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. (34-20) Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:18-19).
Kabar baik kepada orang yang sedang hancur jiwanya adalah bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka. Manusia memang didesain sebagai makluk yang rentan dengan masalah patah hati akibat kecewa. Ibarat perkakas, hati manusia kebanyakan seperti kayu yang mudah rapuh atau patah. Ada banyak sumber yang bisa membuat orang patah hati. Untuk itu kita bisa belajar dari banyak lagu yang mengisahkan hubungan antara pengkhianatan cinta dan kehancuran jiwa.
Lagu nostalgia Patah Hati menyuratkan adanya orang orang yang kecewa gara gara ditinggal atau dikhianati oleh kekasih yang dicintainya. Bung Rinto Harahap juga pernah menciptakan sebuah lagu yang menjabarkan betapa sakitnya hati ini gara gara dilecehkan oleh sang pujaan hati. ”Kau datang dan pergi sesuka hatimu, oh sakitnya hati bencinya hati padamu.” Ketika harapan tidak menemui kenyataan, jiwa bisa remuk redam. Alhasil, semangat jadi hilang, badan loyo dan tidak bergairah. Untuk memulihkan tubuh yang loyo bisa minum Extra Joss, Fit Up, Hemaviton atau Fatigon. Namun untuk memulihkan jiwa yang hancur dan semangat yang patah, diperlukan kiat kiat khusus.
Salah satu penyebab kehancuran jiwa adalah rasa bersalah akibat kejahatan dan pelanggaran terhadap Titah Tuhan. Ketahuilah bahwa Tuha sudah menaruh hakim dalam diri kita yang disebut hati nurani. Hakim yang satu ini paling jujur dan tidak bisa disuap. Hati nurani kita bisa menjadi sahabat, sekaligus musuh. Ketika kelakuan kita bertentangan dengan keyakinan, hati nurani akan mengirimkan peluit sebagai tanda ada yang tidak singkron antara batin dan prilaku. Peluit sang wasit itu bisa terdengar dalam detak jantung yang semakin mengeras dalam bentuk kegelisahan yang menggangu ketentraman. Kita bisa saja mendengarkan atau mengabaiakan peringatan itu, sama seperti pemain sepak bola yang berpura pura tidak salah. Namun jika sikap tidak mau tahu itu dibiarkan maka yang rugi bukan wasitnya tetapi pemainnya. Terlalu sering melanggar akan kena kartu merah alias dikeluarkan dari permainan dan sanksi sanksi yang lainnya. Pelanggaran yang teralu sering membuat hati nurani kita tumpul. Menurut rasul Paulus, kondisi nurani yang ndableg bisa membuat iman kita kandas.
Kapal pesiar Titanic seharusnya bisa terhindar dari kecelakaan fatal jika petugas komunikasi peka dengan peringatan yang diberikan oleh awak kapal yang lain. Malam sebelum kapal naas itu menabrak gunung es, petugas komunikasi sudah menerima radio gram yang mengingatkan supaya kapal berubah arah. Namun sayang peringatan itu tidak digubris sehingga musibahpun tidak dapat terelakan. Akibatnya kapal hancur lebur dan lebih dari 1,200 nyawa melayang dengan sia sia.
Hati nurani kita juga bisa digambarkan sebagai wasit dalam permainan sepak bola. Ketika kita tidak mau mendengar maka yang menanggung akibatnya adalah jiwa. Jiwa kita bisa merana karena beban rasa bersalah yang menumpuk. “Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka, di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.” (1 Timotius 1:19-20).
Untuk memulihkan jiwa yang remuk, kita perlu menyucikan kembali hati nurani yang kotor. Untuk yang satu ini kita tidak bisa menggunakan sabun cuci atau obat pemutih seperti Byclean. Yang bisa menyucikan hati nurani kita adalah kuasa darah Yesus yang kita dapatkan setelah kita mengakui kesalahan dan dosa yang kita perbuat. “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.” (Ibrani 10:22-23).








