Keserakahan adalah musuh kemanusiaan. Itulah sebabnya semua agama mengajar umatnya untuk menjauhkan diri dari sifat tamak atau loba. Dampak negatif dari ketamakan memang sangat menghancurkan. Saya membaca sebuah artikel yang menjelaskan bahwa setiap hari ada sekitar tiga puluh ribu anak yang mati karena kelaparan atau penyakit yang berkaitan dengan kemiskinan. Mereka adalah masyarakat awam yang telah menjadi korban eksploitasi dari oknum oknum yang serakah. Dampak negatif keserakahan bahkan bisa menghancurkan hubungan keluarga, pertemanan dan pelayanan. Oleh karena itu Alkitab mengajak kita sekalian untuk membebaskan diri dari sikap buruk yang satu ini.
Kata serakah yang dalam bahasa Yunaninya adalah plenosias artinya keinginan yang tidak bisa dikontrol atau inordinate desire. Semua keserakahan dimulai dari keinginan untuk memiliki lebih. Landasan utamanya adalah khawatir kalau tidak cukup. Bagi orang serakah tidak ada istilah cukup. Seorang menggambarkan keserakahan itu seperti iblis yang punya mulut kecil degan perut yang sangat besar. Kebanyakan orang yang erakah adalah orang yang sudah tergolong “punya”. Mereka sudah punya gaji, kedudukan, jabatan namun masih juga tega mengeruk keuntungan dengan cara yang haram. Coba simak surat kabar atau media elektronik yang lainnya. Orang orang yang diburu oleh KPK (Komisi Pembrantasan Korupsi) adalah mereka yang tergolong sudah mapan hidupnya. Saya tida pernah melihat ada pemulung di kejar kejar polisi atau KPK gara gara tersangkut masalah korupsi.
Firman Tuhan banyak menggambarkan bahwa yang namanya ketamakan itu adalah akar dari segala kejahatan. Bukan hanya tamak akan uang, tetapi juga tamak kedudukan, gila hormat, gila pangkat, dll. Karena itu kita harus berani menengok hati kita masing masing, jika masih ada benih keserakahan dalam hati, sebaiknya segera disingkirkan. Manusia lahir dengan kemampuan untuk percaya, sekaligus menjadi serakah dan yang tinggal paling lama dalam diri adalah sikap serakah. Sikap ini mamang sudah menjadi bahaya laten yang perlu diwaspadai. Jika ia masuk di system pemeritahan, maka yang muncul adalah tikus tikus negara mulai dari koruptor kelas teri hingga perampok kelas kakap. Kalau ketamakan merasuk dalam dunia pelayanan, ia bisa menghancurkan nama baik, merusak reputasi dan nama Tuhan tidak dipermuliakan. Jika keserakahan masuk dalam rumah tagga, ia bisa menghancurkan keutuhan rumah tangga, mentelantarkan anak istri dan mencemari hubungan.
Pertanyaannya adalah “bagaimana caranya seorang anak manusia bisa benar benar bebas dari sifat serakah”? Tidak terlalu sulit bagi mereka yang benar benar mau terbebas. Cukup dengan mengubah cara pandang kita terhadap harta benda, maka kita bisa terbebas dari segala ketamakan dan kejahatan yang menyertainya. Salah satunya adalah dengan melakukan reposisi hati. Kalau dulu hati kita dikuasai oleh harta, maka sudah saatnya hati kita yang menguasai harta. Lalu apa tandanya jika sorang sudah benar benar bisa menguasai hartanya? Belajarah seperti nabi Ayub. Ketika semua harta bendanya ludes di sambar petir dan dijarah orang, ia berlutut sambil mengatakan “Aku lahir dengan telanjang aku kembali dengan telanjang juga. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan. Selamat mencoba.









