MEMBUANG MANUSIA LAMA
He who rejects change is the architect of decay. The only human institution which rejects progress is the cemetery. ~Harold Wilson
Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. (Efesus 4:21-28)
Salah satu cara untuk mengalami pembaharuan dalam hati adalah dengan membuang manusia lama yang menjerumuskan manusia kepada kesesatan dan kebinasaan. Apa susahnya membuang manusia lama? Inilah yang menjadi titik persoalannya. Kata yang dipakai dalam bahasa aslinya adalah apothesthai to put away. Gambaran yang paling jelas adalah seorang yang sedang menanggalkan jubah atau pakaian. Kelakuan atau behavior kita ini digambarkan seperti jubah atau pakaian yang menyatu dengan kita.
Tidak semua orang menyukai pakaian yang baru. Terkadang ada yang lebih menyukai pakaian lamanya dari pada yang baru karena alsan kenyamanan. Tidak terlalu sulit melihat contoh kenenaran ini. Istri saya mempunya baju tidur kesayangan yang sudah sobek karena termakan oleh waktu. Begitu sayangnya dengan baju kesukaan itu meskipun sudah ketinggalan jaman, dia tetap memakainya.
Demikianlah dengan kebiasaan manusia yang sudah menyatu menjadi sikap hidup. Rasanya sulit untuk bisa mengubah sebuah kebiasaan yang sudah menjadi bagian hidup bertahun tahun lamanya. Ibarat benang yang sudah ditenun menjadi kain, begitu sulit untuk melepaskannya satu persatu. Hari ini kita sudah berjanji dihadapan istri untuk berubah, ternyata perbuatan yang sama terulang lagi untuk bertahun tahun lamanya. Untuk mengubah sikap, dibutuhkan perubahan cara berfikir lebih dahulu. Jika pola pikir yang lama masih bercokol, maka pikiran pikiran yang baru sulit sekali bekerja dan memberi dampak dalam hidup ini. Istilah alkitabnya adalah “anggur yang baru tidak bisa ditampung di kirbat yang lama.” All changes, even the most longed for, have their melancholy; for what we leave behind us is a part of ourselves; we must die to one life before we can enter another. ~Anatole France
Seorang ibu yang bijak dalam merawat kesehatan bayinya sudah tahu bagaimana caranya mengganti popok. Sebelum memakaikan popok yang baru, ia akan menanggalkan popok yang lama dan membersihkan kotoran yang menempel ditubuh. Jika popok yang baru langsung dipakaikan diatas popok yang lama, maka yang baru akan ikut bau dan kotor. Gambaran ini sangat mudah untuk dicerna dan diterapkan. Untuk mendapatkan yang baru, kita harus rela membuang yang lama. Jika tidak maka yang baru tidak akan berfungsi.
Kita semua mengalami sulitnya berubah dalam pola pikir. Meskipun kita mendengar kebenaran setiap hari, membaca Firman, mendengarkan khotbah atau ikut kelompok pemahaman Alkitab, jika pikiran lama kita tidak ditanggalkan maka kita tidak akan mengalami perubahan prilaku. Hasilnya adalah kemandegan hidup yang menjemukan. Tidak adanya perubahan adalah simbol kematian. Growth is the only evidence of life. ~John Henry Newman, Apologia pro vita sua, 1864
Menanggalkan pola pikir yang lama berarti kita tidak akan menggunakan konsep palsu yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Yang saya maksudkan dengan konsep palsu adalah kebohongan kebohongan yang kita percayai. Kita mendapatkan konsep itu dari pengalaman, orang tua, guru atau teman. Jika anda berfikir bahwa nilai diri anda sangat dipengaruhi oleh harta miliki yang berharga mahal, maka anda sedang mempercayai kebohongan yang dihembuskan oleh gaya hidup materialists. Jika anda merasa lebih berharga dengan menggendarai mobil BMW, dibanding tetangga yang menggendarai sepeda motor Yamaha, Anda sudah termakan oleh bujukan si Iblis. Saya bertemu dengan begitu banyak pria yang telah mengorbankan kehidupan rohaninya dan bahkan kehidupan rumah tangganya gara gara mengejar karir dan jabatan. Prilaku itu dijiwai oleh keyakinan yang mengatakan “jati diri saya sangat dipengaruhi oleh kedudukan dan jabatan”. Tidak heran jika orang orang ini pada akhirnya terobsesi untuk mendapatkan kedudukan.
Mengoreksi kelakuan tanpa mengubah cara berfikir itu sia sia. Selama pola pikir tidak berubah, kelakuanpun tidak akan berubah. Para koruptor itu tidak akan bertobat jika mereka tidak pernah menyadari bahwa korupsi adalah sebuah tindakan perampokan. Mereka melakukan tindakan yang korup karena selama ini mereka tinggal di sebuah system yang memang membiarkan tindakan itu terjadi. Lambat laun mereka menagkap kesan bahwa kosrupsi is ok, karena hampir semua temannya melakukannya dan sistem mendukungnya. Terbiasa melakukan kesalahan dengan banyak orang bisa membuat kesalahan menjadi tindakan yang dianggap wajar dan bahkan benar.
Rasul Paulus mengharuskan setiap jemaatnya untuk menanggalkan manusia lama. Ini berarti bukan sebuah pilihan, tetapi kewajiban. Sebab itu tanggalkanlah manusia lama dengan pola kehidupan lama yang sedang dirusakkan oleh keinginan-keinginannya yang menyesatkan. Hendaklah hati dan pikiranmu dibaharui seluruhnya. Hendaklah kalian hidup sebagai manusia baru yang diciptakan menurut pola Allah; yaitu dengan tabiat yang benar, lurus dan suci. (Efesus 4:22-24)
Manusia lama harus ditinggalkan, karena arahnya sudah jelas, yaitu kebinasaan. Pembaharuan pola pikir tidak bisa dilakukan setengah setengah. Itulah sebabnya pikiran dan hati harus dibaharui secara total, bukan tambal sulam. Kalau Firman Tuhan memerintahkan, berati kita akan diberi kemampuan untuk melakukannya.








