“Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.” (Keluaran 16:1). “Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;” (Keluaran 16:2).
Lima belas hari setelah keluar dari Mesir, tidak sedikit umat Israel yang mulai rindu kampung halaman. Mereka bukan hanya rindu tempat kelahiran, tetapi yang lebih utama mereka rindu lezatnya daging domba dan manisnya susu dan madu di negeri Firaun. Manusia cenderung sulit meninggalkan wilayah rasa aman. Setiap perubahan memang mengganggu rasa aman. Itulah sebabnya mereka takut menghadapi perubahan.
Pengalaman padang gurun memang sangat drastis bagi mereka. Sudah lama mereka hidup nyaman meskipun dalam penindasan kerja paksa. Bagi mereka penderitaan kerja paksa jauh lebih enak dari pada hidup merdeka di padang belantara. Demikianlah sikap kebanyakan manusia. Mereka lebih suka tinggal dalam belenggu penjajahan dari pada kebebasan yang beresiko. Alasanya klasik, ‘’saya sudah terbiasa dengan gaya hidup itu.” atau ‘’saya sudah nyaman dengan apa yang selama ini saya jalani”.
Harto sudah lama hidup dalam ikatan narkoba. Rasa ketagihan itu sudah mengikat hidupnya. Setiap kali mencoba untuk berhenti, ia selalu gagal dan kembali lagi menghisap daun haram yang namanya ganja. Bebarapa tahun yang lalu ia mengalami perubahan drastis setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus. Namun sayang ia tak kuasa menahan sakau atau sakitnya kecanduan. Tidak seikit nasehat yang telah didengarnya, sudah banyak airmata orang tua yang tumpah dalam doa. Bahkan Harto sudah berbulan bulan tinggal di rumah rehabilitasi, tetapi ia tetap lebih menyukai gaya hidup lamanya. Ibarat seekor gajah yang terbiasa hidup dengan rantai. Setiap hari hanya bisa berjalan mengelilingi tiang. Bahkan setelah rantainya dilepaskan, ia masih terus berjalan keliling seperti biasanya. Alangkah kasihan nasib manusia yang seperti itu.
Maksud Tuhan mengeluarkan bangsa Israel keluar dari Mesir itu sangat mulia. Tuhan ingin menjadikan mereka bangsa pilihan sekaligus umat percontohan sehingga bangsa bangsa yang lain akan diberkati melalui kehidupan mereka. Tanah Kanaan yang telah dijanjikan 400 tahun sebelumnya sudah ada di depan mereka. Namun karena persungutan mereka akhirnya generasi itu mati di padang gurun dan tidak sempat menikmati indahnya tanah yang kaya dengan susu dan madu, lebih enak dari yang mereka nikmati di Mesir.
Marilah kita belajar dari kisah di atas. Tuhan ingin membebaskan kita dari setiap ikatan dosa dan belenggu penderitaan. Untuk itulah Bapa telah mengirimkan Anaknya untuk mati di kayu salib. Tuhan Yesus pernah mengatakan “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18~19).
Di atas tiang gantungan itu, setiap tetes darah Nya sanggup membebaskan kita dari segala macam upah dosa. Dan tidak ada kuasa yang mampu mengalahkan maut, kecuali kuasa Darah Anak Domba. Kita hanya diminta untuk beriman kepada Nya dan mempercayai kuasa darah Nya. Wanita yang menderita pendarahan 12 tahun sudah merasakan bagaimana buruknya penderitaan akibat kanker rahim yang dideritanya. Namun ketika imannya bangkit sambil menjamah jubahnya, maka keyakinannya itu telah menggerakan kuasa Yesus untuk menghentikan pendarahannya seketika itu juga. Orang yang lumpuh 33 tahun sudah bosan merasakan susahnya jadi orang cacat. Namun ketika ia berjumpa dengan Yesus, hari itu juga Ia bisa berjalan. Iman kita kepada nama Yesus menghadirkan kuasa yang bisa menghadirkan mujizat yang kita nantikan begitu lama.
Ketika anda sudah tidak kuasa untuk keluar dari ikatan narkoba, perzinahan, kebiasaan buruk atau jenis prilaku dosa yang membuat anda menderita, jangan lupa ada nama Yesus yang berkuasa. Inilah saatnya Anda menyebut nama Nya dengan iman dan mengharapkan mujizatnya. Jika anda sudah tidak berdaya untuk mengubah nasib. Inilah saatnya Anda mulai bergantung dan berserah kepada Yang Maha Kuasa.








