Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan Peter (nama samaran). Sudah lama saya berteman dengan pria yang tergolong tajir, pintar dan cinta pekerjaan Tuhan. Selain menjadi CEO perusahaan internasional, ia juga seorang bapak yang baik untuk ketiga anaknya yang menginjak dewasa. Persahabatan saya dengan Peter memang sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun, itulah sebabnya kami berani saling terbuka. Namun kehadiran Peter kali ini membuat pertemuan menjadi sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Biasanya dia bersemangat, ceria dan penuh senyum, namun kali ini wajahnya sedikit kusam, sorot matanya seperti orang yang tertekan. Tidak heran jika diakhir pembicaraan dia minta didoakan. Terus terang saja saya sangat terkejut ketika Peter menyebutkan bahwa istrinya minta cerai.
Saya tidak menyangka jika sahabat saya yang sangat religious ini punya persoalan rumah tangga yang serius. Sebagai sahabat saya langsung mengajukan pertanyaan “Apa yang membuat Jeny minta diceraikan?” Dengan tatapan mata yang berlinang Peter mengatakan :”Ini semua adalah kesalahan saya. Selama ini saya mengejar karir, harta dan kedudukan, tetapi saya kurang memperhatikan kebutuhan emosi istri saya. Saya kurang waktu kebersamaan dengan Jeny.” Sambil menelan ludah dan menghapus airmatanya Peter melanjutkan “Saya sangat malu dengan Tuhan dan anak anak saya.”
“Apakah masih ada kemungkinan untuk diselamatkan?” Sambut saya sambil mengulurkan kertas tisue. “Saya perlu pertolongan Tuhan, karena hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan rumah tangga saya.”
Dengan penuh belas kasihan saya mengajukan pertanyaan kepada Peter:”Seandainya hidupmu diputar kembali dari awal, perubahan apa yang akan kamu lakukan sehingga hubungan pernikahanmu tidak seperti ini?”
“Saya tidak akan menghabiskan waktu untuk karir dan mencari uang semata. Saya akan meluangkan waktu lebih banyak dengan istri dan anak anak saya.” Katanya sambil menghapus airmata.
“Apa yang membuat kamu terobsesi dengan karir, setahu saya kamu menjadi CEO di dua perusahaan dalam waktu yang bersamaan. Bukankah satu saja sudah cukup?”
“Saya ingin membuktikan kepada orang tua dan saudara saudaraku bahwa yang namanya Peter tidak seperti yang mereka pikirkan. Waktu kecil mereka suka melecehkan aku. Bapak juga sering menghina aku sebagai anak yang bodoh dan tidak berguna.”
Ketika saya mendengar kalimat itu saya langsung menebak, kalau Peter punya masalah penolakan yang belum diselesaikan. Selama ini dia mngejar karir dengan motivasi yang salah hingga berani mengorbankan hubungan pernikahannya. Ternyata banyak pria yang ingin mendongkrak identitas dirinya dengan pencapaian lanataran pernah mengalamai penolakan. Dalam tahun ini saja saya berjumpa dengan tiga pria yang memiliki masalah seperti Peter. Mereka adalah orang kaya, dan sukses menurut ukuran dunia yang materialistis ini, namun sayang mereka belum menemukan makna hidup yang sesungguhnya.
Kekuarga adalah aset hidup yang tidak bisa dibayar dengan harta kekayaan. Oleh karena itu marilah kita menjaganya dengan sungguh hati. Jangan hanya demi sesuatu yang bersifat sementara kita korbankan susuatu yang lebih berharga. Marilah kita wariskan nilai kehidupan untuk anak anak kita sehingga kelak mereka akan menjadi pribadi yang matang, dewasa dan bisa menjadi terang dunia. Dan ingatlah nasehat orang tua kita yang mengatakan bahwa hadiah yang terbaik yang bisa kita berikan untuk anak dan istri kita adalah waktu-waktu kebersamaan dengan orang yang paling dekat dalam kehidupan ini-yaitu anak dan istri. Selamat mencoba.









