
Banyak orang percaya ingin melayani Tuhan, namun mereka merasa tidak layak, karena masih ada kekuatan jahat yang bekerja memengaruhi mereka dan berusaha menjauhkan mereka dari firman Allah. Apa yang dialami keluarga saya, sementara kami menerima pewahyuan tentang Salib, adalah bahwa setiap belenggu yang berusaha mengikat kami telah dipatahkan dan pengaruh jahat telah dilenyapkan.
Seandainya kita dapat menangkap sebagian saja dari apa yang terjadi di Kalvari, kita akan melihat Yesus tergantung di kayu dalam penderitaan, menanggung luka yang tak terbayangkan, semuanya karena kasih-Nya bagi kita dan kerinduan-Nya untuk membebaskan kita.
Umat-Nya sendiri telah menolak-Nya; sebagian besar murid-murid-Nya telah meninggalkan Dia; dan ketika Dia berseru memanggil Bapa-Nya mengharapkan belas kasihan, Bapa-Nya pun memalingkan wajah dari-Nya. Semuanya ini harus terjadi karena Yesus menggantikan tempat kita dan menanggung semua dosa kita di atas kayu Salib. Dengan kerelaan hati dan atas dasar kasih-Nya yang besar, Dia memilih untuk menanggung dosa-dosa dan pemberontakan kita di pundak-Nya, guna menyelamatkan kita dari kematian kekal. Dia begitu rindu menebus kita, membawa kesatuan di antara kita, dan menyatukan kita dengan-Nya.
Dia tergantung di kayu Salib selama beberapa jam. Usaha-Nya untuk menghirup udara bahkan merupakan perjuangan yang luar biasa, sebab Dia harus mendorong diri-Nya ke atas sementara kaki-Nya ditancapkan ke kayu Salib. Rasa sakit yang timbul dari luka di kaki-Nya itu sungguh luar biasa. Dia mengalami demam yang luar biasa, yang disebabkan oleh infeksi dan menyebar ke seluruh tubuh-Nya. Darah-Nya menetes ke tanah. Kekuatan-Nya semakin habis. Namun Dia tetap bertahan di kayu Salib selama beberapa jam, sampai karya penebusan-Nya Dia genapi. Gambaran tentang penyaliban ini harus terus-menerus ada di dalam pikiran kita, supaya kita dapat memahami fakta bahwa Tuhan Yesus telah menghancurkan semua pelanggaran dan pemberontakan kita selamanya di kayu Salib.
Ketika kita menerima pewahyuan ini, suatu perubahan yang luar biasa pun terjadi. Segala sesuatu yang buruk di dalam diri kita dan tentang diri kita telah dipakukan di kayu Salib! Allah telah melepaskan kita dari karakter kita yang lama, yang ditandai dengan pemberontakan dan dosa, dan menaruhnya pada tubuh Anak-Nya Yesus Kristus. Dengan memberikan-Nya semua karakter kita yang lama, kita dapat menerima segala sesuatu yang indah dari karakter-Nya yang mulia. Dan kita pun akan menjadi seperti Dia sementara kita hidup di bumi ini. Paulus memahami pewahyuan ini dengan jelas, itulah sebabnya ia berkata, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).









