“Memang baik jadi orang penting, tetapi jauh lebih penting jadi orang baik”
Salah satu kalimat bijak yang sangat memberkati adalah sebagai berikut “Memang baik jadi orang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik.” Untuk beberapa bulan kalimat itu menjadi perenungan yang telah melahirkan khotbah yang memberkati banyak orang. Saat ini bahkan saya sedang menulis buku tentang kuasa kebaikan, yang diinspirasikan oleh kata bijak tersebut. Entah kenapa kalimat itu begitu menggelitik dan menggangu nurani saya.
Setelah saya merenung, memang saya mengakui bahwa terlalu banyak orang yang berlomba lomba ingin menjadi orang penting. Ada yang terobsesi menjadi gubernur, bupati, ketua partai, ketua sinode, manager bank atau ketua RT. Ujung ujungnya adalah mendapatkan kedudukan atau jabatan untuk memuaskan dahaga ego manusia yaitu ingin dianggap penting. Tidak segan segan mereka ini kadang kadang berpura pura baik atau menjanjikan kebaikan kepada mereka yang memilih atau mencoblos namanya. Yang lebih parah lagi, ada yang berani menggunakan cara cara yang tidak baik demi menjadi orang yang penting. Sayangnya setelah mereka menjadi orang penting, kadang kadang lupa janji kebaikannya. Yah… namanya juga manusia. Paling pintar berjanji, dan sulit merealisasikan janji menjadi kenyataan karena disibukan dengan kegiatan kegiatan untuk menjaga kedudukannya supaya tidak direbut atau dilengserkan.
Ada kabar baik bagi mereka yang gemar berbuat baik. Ternyata untuk berbuat baik, tidak mesti harus jadi orang penting dulu. Saat ini juga kita bisa menjadi orang baik dengan melakukan hal hal yang kecil yang bisa meringankan beban orang lain. Coba saja keluar dari rumah dan lihatlah tetanggamu yang sedang membutuhkan kata dorongan atau senyuman Anda. Untuk tersenyum, tidak perlu merogoh kocek atau mengeluarkan keringat. Tetapi senyum Anda bisa memberkati orang yang sedang memerlukannya. Siapa tahu senyum Anda adalah satu satunya senyum yang pernah diterima orang itu selama hidupnya. Pokonya yang namanya berbuat baik itu memang tidak ada ruginya.
Di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia, yaitu manusia yang sedang membutuhkan kebaikan dari orang lain, dan manusia yang sedang menunggu kesempatan untuk bisa berbuat baik. Kalau bisa kita menjadi kelompok yang kedua. Karena berbuat baik itu sangat membahagiakan. Dari semua pelayanan yang saya lakukan, yang paling memberikan kebahagiaan adalah melihat anak anak yatim piatu yang hidupnya diubahkan dan memiliki masa depan. Setiap kali saya mengunjungi anak anak panti, hati saya selalu bahagia dan ada energi hidup yang tidak bisa digambarkan. Itulah sebabnya saya suka dengan ayat Firman Tuhan yang ada dalam Mazmur 41:1-3.
“…Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”
![]()









