“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” (Matius 7:24)
Tak diragukan lagi, ada sebuah kekuatan luar biasa di dalam pengetahuan akan firman Tuhan yang memberkati kita. Tuhan memberikan sebuah ilustrasi mengenai pengetahuan akan firman-Nya ini, yaitu perumpamaan tentang dua orang yang memiliki banyak persamaan, tetapi berbeda dalam hal membangun rumah mereka. Yang seorang sangat bijaksana dan memilih sebuah fondasi yang kokoh untuk membangun rumahnya. Ia juga melakukan tindakan antisipasi yang penting yang akan membantunya menghadapi cuaca buruk. Sedangkan seorang yang lainnya tidaklah bijaksana dan tidak mempertimbangkan hal-hal di masa mendatang. Ia tidak berhati-hati dalam memilih tanah di mana ia membangun rumahnya.
Mereka berdua mengalami ujian yang sama: angin, hujan dan banjir. Orang yang bijaksana telah cukup mempersiapkan dirinya untuk menghadapi semua hal yang terburuk. Oleh karena itu, ia tidak takut bencana, karena rumahnya akan mampu bertahan. Tetapi orang yang bodoh bertindak sembrono, tidak melakukan antisipasi dan akhirnya terkejut melihat kehancuran yang ia alami. Ia menyaksikan semua yang telah ia bangun selama bertahun-tahun akhirnya runtuh dalam sekejap.
Setiap orang memiliki hikmat atau kebodohan dalam keputusannya. Kesempatan yang dimiliki Adam juga diberikan kepada Yesus, dan kepada kita juga. Kita mau menjadi seperti apa, menjadi bijaksana atau menjadi bodoh, tergantung pada keputusan kita masing-masing. Di masa krisis, satu-satunya yang dapat melindungi kehidupan seseorang adalah dengan melekat kepada firman Tuhan yang telah diberikan kepadanya.
Ketika Allah memilih bangsa Israel untuk beribadah kepada-Nya, keselamatan secara eksklusif melingkupi bangsa itu dan keturunannya. Namun sejak Yesus datang ke bumi untuk menggantikan tempat kita, keselamatan tersedia bagi setiap orang dari setiap ras, suku dan bangsa, sebab Kristus telah meruntuhkan tembok pemisah kita dengan Allah. Berulangkali Tuhan menyerukan kepada umat-Nya untuk mendengarkan firman-Nya. Rasul Yakobus berkata, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yakobus 1:22). Andai saja Adam dan Hawa dapat memelihara firman Tuhan di dalam hati mereka ketika mereka masih tinggal di taman Eden, tentu mereka tidak akan pernah mempercayai dusta Iblis. Itulah sebabnya Yakobus menegaskan kembali bahwa jika kita hanya mendengar firman Tuhan tanpa melakukan firman-Nya, maka kita hanya menipu diri sendiri.
Seorang murid Kristus sejati akan terus-menerus membuktikan bahwa ia tinggal di dalam firman-Nya. Firman-Nya menjadi sebuah batu karang yang kokoh bagi jiwanya, dan menjadi sebuah sokoguru yang menopangnya di masa-masa pencobaan. Firman Tuhan memberikan stabilitas yang sejati bagi hidupnya. Pesan yang diberikan Musa kepada bangsa Israel menekankan ketaatan kepada firman Allah, ketika ia berkata, “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ulangan 22:1, 2).
Nabi Yesaya berkata, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (Yesaya 40:8). Alkitab berisi fondasi dan pengajaran yang mendasar di mana orang yang percaya kepada Kristus, Gunung Batu yang Kekal itu, membangun imannya. Alkitab merupakan buku pedoman bagi kehidupan orang Kristen. Melalui Alkitab kita menerima perintah, senjata, dan strategi bagaimana menghadapi peperangan rohani yang tidak akan pernah terpisahkan dari kehidupan orang Kristen.
“Hanya ada satu sungai yang mengalir dari takhta Allah; yaitu kasih karunia Roh Kudus. Kasih karunia Roh Kudus ini tersimpan di dalam Alkitab, dan menjadi sungai dari Alkitab; yang mengalir dari dua buah anak sungai, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di setiap anak sungai itu terdapat sebatang pohon; yaitu Kristus.” (Santo Jerome)
Seluruh bagian Alkitab diinspirasikan oleh iman anak-anak Allah. Puji Tuhan, melalui orang-orang yang kudus dan sederhana, kita menerima pewahyuan firman Allah. Orang-orang ini mengetahui bahwa apa yang mereka tulis akan memberikan tuntunan rohani bagi generasi selanjutnya. Jika kita menghilangkan kata “iman” dari Alkitab, maka Alkitab akan menjadi tidak bernilai. Elemen imanlah yang membuat Alkitab menjadi sebuah kitab yang berbeda dari kitab-kitab lainnya. Semua yang dimiliki Allah telah dimanifestasikan di dalam pribadi Yesus Kristus. Dia adalah Firman yang menjadi manusia. Itulah sebabnya Yohanes menulis, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (Yohanes 1:4).
Seorang Yahudi dari Aleksandria percaya bahwa “logos” merupakan sesuatu yang paling awal keberadaannya. Itu merupakan sarana yang Allah gunakan untuk membentuk semua ciptaan. “Logos” merupakan pikiran Allah yang menakjubkan atas dunia ini. Yesus merupakan firman Allah yang kekal. Rasul Paulus mengungkapkan seperti ini, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan… Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia (Kolose 1:15, 17).
Allah yang tidak kelihatan memanifestasikan diri-Nya kepada kita melalui Yesus Kristus. Dia memiliki semua atribut yang setingkat dengan Allah Bapa. Itulah sebabnya setiap perkataan yang Yesus ucapkan memiliki kuasa dan terjadi seperti apa yang Dia firmankan. “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kolose 1:19). Melalui firman-Nya, Yesus membangkitkan Lazarus yang telah mati empat hari lamanya. Dialah yang telah menginspirasikan dan memberikan hidup kepada Firman yang mentransformasikan segala sesuatu. Roh Allah yang sama, yang berdiam di dalam Kristus, kini berdiam di dalam kita.









