<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>:: Paulus Wiratno.com -&#62; Making Life Better, Buat Hidup Lebih Baik dan Berarti dengan kata-kata bijak</title>
	<atom:link href="http://www.pauluswiratno.com/index.php/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pauluswiratno.com</link>
	<description>Making Life Better akan membuat hidup menjadi lebih baik</description>
	<pubDate>Sun, 20 May 2012 12:00:29 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>EVERY BODY CAN BE GENEROUS</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/05/20/every-body-can-be-generous/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/05/20/every-body-can-be-generous/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 May 2012 12:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[bebagi]]></category>

		<category><![CDATA[beramal]]></category>

		<category><![CDATA[generous heart]]></category>

		<category><![CDATA[Kemurahan hati]]></category>

		<category><![CDATA[memberi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Generousity is about the heart not about what you have. You can be generous in many things&#8221; 
Setiap orang bisa menjadi pemberi yang baik. Karena kemurahan hati adalah masalah hati dan bukan masalah harta. Orang yang memiliki banyak harta belum tentu bisa menjadi pemberi yang baik. Sebaliknya, mereka yang masuk dalam golongan miskin, bisa memberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Generousity is about the heart not about what you have. You can be generous in many things&#8221; </p>
<p>Setiap orang bisa menjadi pemberi yang baik. Karena kemurahan hati adalah masalah hati dan bukan masalah harta. Orang yang memiliki banyak harta belum tentu bisa menjadi pemberi yang baik. Sebaliknya, mereka yang masuk dalam golongan miskin, bisa memberi karena kaya dalam hati. Definisi yang paling tepat untuk orang kaya adalah orang yang banyak mengucap syukur dan sedikit memiliki keinginan. Kebenaran ini membuat kita sadar bahwa setiap orang bisa menjadi orang kaya. Dan salah satu tanda bahwa orang itu sudah menjadi kaya ialah saat menyadari bahwa ia telah diijinkan memiliki lebih dari cukup sehingga berani berbagi dengan mereka yang kekurangan. Sedangkan mereka yang mengaku kaya tetapi kikir, sebenarnya masih belum kaya, karena ia masih merasa kurang.</p>
<p>Mari kita belajar dari seorang janda yang datang ke rumah ibadah dengan uang recehan yang ada di dalam dompetnya. Saat uang itu dipersembahakan ia tidak punya pilihan lembaran mata uang, baik yang warna merah, biru, bahkan hijau. Sisa harta recehan itu yang ada, dan ia berikan semuanya. Ia memberi dari kekurangan bukan kelebihan. Di hadapan bendahara rumah ibadah, ia tidak masuk dalam hitungan. Mungkin namanya juga tidak masuk dalam daftar penyumbang karena nilai persembahannya tidak bermakna. Namun di hadapan Tuhan yang maha Pemurah, ia masuk dalam golongan yang luar biasa. Ia memberi dengan hati, bukan hanya dengan harta. </p>
<p>&#8220;Ia melihat juga seorang janda yang sangat miskin, memasukkan dua keping uang tembaga. Lalu Yesus berkata, &#8220;Dengarkan: janda ini memasukkan lebih banyak dari semua yang lain. Sebab mereka semua memberi dari kelebihan hartanya. Tetapi janda ini, sekalipun sangat miskin, memberikan semua yang ada padanya yang diperlukannya sendiri untuk hidup.&#8221; Lukas 21:2-4</p>
<p>Kemurahan hati adalah masalah sikap bukan jumlah harta benda. Oleh karena itu setiap orang yang punya hati bisa bermurah hati. Untuk bisa bermurah hati, ia harus pernah mengalami kemurahan dari Tuhan dan sesama. Saya belajar kemurahan hati dai sahabat saya di Yuma, Arizona. Setiap kali saya pelayanan di gerejanya, ia memperlakukan kami seperti raja. Mulai dari antar jemput dengan mobil yang terbaik, akomodasi di hotel yang temegah hingga hal hal yang terkecil. Teman saya ini pernah terbang dari Arizona untuk menjenguk saya di rumah sakit saat saya opname di Glen Eagle Hospital Singapore. Dari dialah saya belajar bahwa setiap orang bisa belajar dari orang lain tentang kemurahan hati. Everybody can be generous. </p>
<p>Saya pernah mendengar tuan Pelit yang bernazar, &#8220;nanti kalau uang saya sudah banyak saya akan beramal untuk fakir miskin. Demikian juga kalimat kang Tukiman &#8220;Doakan saya pak, semoga minggu ini nomer Togel saya nembus, nanti saya bantu beli semen untuk bangunan gereja.&#8221; Entah sudah berapa banyak orang berjanji seperti itu dan biasanya tidak ditepati. Yang jelas kalau mau memberi tidak usah pakai kalimat NANTI. Karena kalau kita jujur, hari ini kita juga bisa memberi. Tidak mesti harus dengan uang atau harta. Anda bisa keluar dari rumah dan memberikan senyum kepada yang lewat di depan Anda. Siapa tahu senyum Anda adalah satu satunya yang ia dapatkan sepanjang hidupnya. Berikan kata dorongan untuk mereka yang sedang kecewa. Berikanlah kehangatan untuk mereka yang sedang sekarat kedinginan karena udara musim gugur. Untuk menjadi seorang pemurah kita bisa mulai saat ini juga. Mulailah sekarang!!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/05/20/every-body-can-be-generous/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>RAHASIA MENJADI ORANG KAYA</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/05/16/rahasia-menjadi-orang-kaya/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/05/16/rahasia-menjadi-orang-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 11:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[news]]></category>

		<category><![CDATA[kaya]]></category>

		<category><![CDATA[memberi]]></category>

		<category><![CDATA[orang kikir]]></category>

		<category><![CDATA[pelit]]></category>

		<category><![CDATA[rahasia]]></category>

		<category><![CDATA[rahasiajadi kaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua orang punya sifat suka memberi. Kebanyakan manusia membawa sifat egocentris. Saya dengar orang bijak pernah mengatakan bahwa kita lahir kedunia ini  dengan membawa tabiat serakah. Dan masih banyak orang belum bisa menanggalkan sifat itu hingga masuk ke liang kubur. Kebanyakan orang mempertahankan sifat kikirnya karena rasa takut. Ada yang takut kekurangan, takut menderita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak semua orang punya sifat suka memberi. Kebanyakan manusia membawa sifat egocentris. Saya dengar orang bijak pernah mengatakan bahwa kita lahir kedunia ini  dengan membawa tabiat serakah. Dan masih banyak orang belum bisa menanggalkan sifat itu hingga masuk ke liang kubur. Kebanyakan orang mempertahankan sifat kikirnya karena rasa takut. Ada yang takut kekurangan, takut menderita, ada pula yang takut melarat. Semua alasan itu berkaitan dengan masalah identitas dan rasa aman.</p>
<p>Diceritakan pada suatu hari mulah Nazrudin Hoja sedang pergi ke pasar. Sesampainya di tengah pasar, ia melihat ada keributan yang membuat beberapa orang panik dan berteriak &#8220;berikan tanganmu, segera berikan tanganmu!!&#8221; Nampaknya ada seorang yang tergelincir dan jatuh ke sungai  yang arusnya cukup deras dan dalam. Melihat orang naas sudah hampir tenggelam, sang Mulah menggunakan kata hikmat untuk menolongnya  &#8221;ambil tanganku.&#8221; Dengan sigap orang itu langsung mengambil tangan Nazrudin dan selamatlah nyawanya. Ia tidak mau memberikan tangannya tetapi senang mengambil tangan orang lain. Sedikit jenaka tetapi penuh makna.</p>
<p>Perhatikankah pemuda bodoh yang pekerjaannya hanya membangun, mengumpulkan, menimbun dan mengambil. Ia takut hidup susah. Ia tidak mau membeli RASKIN atau jatah beras rakyat miskin. Ia sungkan menerima bantuan tunai langsung. Ia ingin mendapatkan penghargaan dan diperhitungkan sebagai VIP.  Itulah sebabnya ia  memeras keringat dan membanting tulang demi harta.  Namun  sayang hidupnya berakhir dengan tragis. Ia belum sempat menikmati apa yang telah dimilikinya. Ia tidak sempat mencicipi hasil jerih payahnya. Mengapa Tuhan Yesus tidak memberikan nama jelas sang pemuda itu? Mengapa Alkitab hanya menyebut sebagai orang kaya yang bodoh? Karena ternyata di dunia ini ada jutaan orang yang nasibnya sama dengan pemuda itu. Anda dan saya juga bisa mendapatkan julukan yang sama jika kita tidak berani berbagi dalam hidup ini.</p>
<p>Orang yang murah hati biasanya telah mengalami pencerahan kalbu. Ketika kita mendapatkan pewahyuan pribadi dari Tuhan,  kita akan meninggalkan sifat sifat yang bertentangan dengan watak dan sifat ilahi. Allah memberikan pewahyuan ilahi sehingga kebenaran itu disingkapkan supaya kita bisa hidup benar dan memantulkan terang yang sebenarnya. &#8220;When your light is on, your life will turn arround at once.&#8221; Ketika kita menyadari bahwa harta miliki itu bersfat  sementara, dan kita hanyalah seorang pengelola, maka kita tidak akan pernah menggunakan rejeki untuk mendongkrak harga diri dan mencuri kemuliaan ilahi.  Semoga tulisan ini bisa memberi pencerahan hati.</p>
<p>&#8220;Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.&#8221; Amsal 11:24-25</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/05/16/rahasia-menjadi-orang-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KERAGUAN DAN KERUGIAN</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/04/09/keraguan-dan-kerugian/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/04/09/keraguan-dan-kerugian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 12:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[BERANI]]></category>

		<category><![CDATA[bimbang]]></category>

		<category><![CDATA[doa]]></category>

		<category><![CDATA[Minta]]></category>

		<category><![CDATA[ragu]]></category>

		<category><![CDATA[setia]]></category>

		<category><![CDATA[teguh]]></category>

		<category><![CDATA[terkabul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Ask boldly, believingly, without a second thought. People who &#8220;worry their prayers&#8221; are like wind- whipped waves. 
Tetapi orang yang meminta, harus percaya; ia tidak boleh ragu- ragu. Sebab orang yang ragu- ragu adalah seperti ombak di laut yang ditiup angin ke sana ke mari. Orang yang seperti itu tidak tetap pikirannya; ia tidak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ask boldly, believingly, without a second thought. People who &#8220;worry their prayers&#8221; are like wind- whipped waves. </p>
<p>Tetapi orang yang meminta, harus percaya; ia tidak boleh ragu- ragu. Sebab orang yang ragu- ragu adalah seperti ombak di laut yang ditiup angin ke sana ke mari. Orang yang seperti itu tidak tetap pikirannya; ia tidak bisa mengambil keputusan apa- apa dalam segala sesuatu yang dibuatnya. Karena itu, tidak usah juga ia mengharapkan untuk mendapat apa- apa dari Tuhan.<br />
Yakobus 1:6</p>
<p>Berani meminta kepada Tuhan adalah syarat utama terkabulnya sebuah doa. Yakobus mengingatkan kita supaya memilki keteguhan dan kesungguhan hati pada waktu berdoa kepada Nya. Karena orang yang takut meminta atau bimbang setelah berdoa tidak akan mendapatkan apa apa. Ada beberapa penyebab orang takut meminta kepada Tuhan. Kisah berikut ini akan menolong kita memahami apa yang dimaksud oleh Yakobus.</p>
<p>Orang yang tidak berani meminta biasanya pernah kecewa. Doanya sering tidak terjawab atau belum terjawab. Padahal ia sudah lama menanti. Sama seperti pria lumpuh yang terbarng di samping kolam Bethsaida. Sudah 38 tahun ia menunggu. Sudah begitu banyak tabib yang didatangi. Entah berapa banyak uang yang telah dihabiskan untuk pengobatan. Kenyataan yang ada ialah ia sudah pasrah dan sampai pada titik pupus harapannya. Buktinya pada waktu Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan &#8220;Maukah engkau sembuh,&#8221; ia tidak berani memberi jawaban yang pasti. Apa susahnya bilang &#8220;Ya, saya mau sembuh sekarang juga.&#8221; </p>
<p>Jawaban pria itu merupakan kalimat putus asa yang sering saya dengar dalam kehidupan sehari hari. Jawab orang sakit itu kepada- Nya: &#8220;Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.&#8221; Hati pria itu  sudah dikuasai oleh kekecewaan dan pikirannya sudah buntu karena kesulitan dan kegagalan. Seolah olah  sudah tidak ada secuil kemungkinan untuk bisa mendapatkan pertolongan. Nampaknya semua pintu sudah tertutup, sehingga mengabaikan kemungkinan adanya pintu lain yang terbuka. Dalam istilah bahasa jawa &#8220;pikirane cupet, atine sumpek.&#8221;</p>
<p>Sama seperti kenalan saya yang bernama Badron. Ia sering dijuluki sebagai perjaka tua karena sudah umur 47 tahun tetapi belum memiliki pasangan hidup. Padahal semua adiknya sudah berkeluarga dan punya momongan. Kang Badron bahkan sudah bertekad hidup jomblo seumur hidup. Hatinya sudah tertutup oleh cinta karena pengalaman penolakan yang pernah terjadi selama tiga kali. Yang paling menyakitkan adalah wanita yang bernama Sulastri. Rencana pernikahannya gagal gara gara Sulastri minggat dengan  pria idamannya, padahal sudah dilamar dan hari pernikahan sudah ditentukan. Untung saja Badron tidak gantung diri. Pengalaman menyakitkan itulah yang membuat pria itu tidak betani lagi menyatakan cintanya kepada siapapun juga. </p>
<p>Lain halnya dengan janda nekad yang pantang menyerah. Sampai hari ini namanya tidak ada yang tahu. Namun keberaniannya meminta pertolongan dari pak hakim itu membuat ia terkenal pada jamannya, sehingga Tuhan Yesus menggunakan kisahnya untuk mengajarkan kebenaran. Di kota itu ada pula seorang janda yang berkali- kali menghadap hakim itu meminta perkaranya dibela. &#8216;Tolonglah saya menghadapi lawan saya,&#8217; kata janda itu.  Beberapa waktu lamanya hakim itu tidak mau menolong janda itu. Tetapi akhirnya hakim itu berpikir, &#8216;Meskipun saya tidak takut kepada Allah dan tidak peduli kepada siapa pun, tetapi karena janda ini terus saja mengganggu saya, lebih baik saya membela perkaranya. Kalau tidak, ia akan terus- menerus datang dan menyusahkan saya.&#8217; &#8221;</p>
<p>Keberanian janda itu membuat sang hakim akhirnya melukuskan permintaannya. Langkah awal untuk terkabulnya sebuah doa adalah niat yang kuat yang lahir dari hati. Jika permintaannya di sertai dengan iman yang teguh maka Tuhan akan memngabulkan doa kita. Bukankah Allah pernah bersabda &#8221; Dan kita berani menghadap Allah, karena kita yakin Ia mengabulkan doa kita, kalau kita minta apa saja yang sesuai dengan kehendak- Nya. Karena kita tahu bahwa Ia mendengarkan kita kalau kita memohon kepada- Nya, maka kita tahu juga bahwa Ia memberikan kita apa yang kita minta daripada- Nya. 1Yohanes 5:14-15</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/04/09/keraguan-dan-kerugian/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DIMANAKAH ANDA SAAT YESUS DISALIBKAN?</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/04/06/dimanakah-anda-saat-yesus-disalibkan/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/04/06/dimanakah-anda-saat-yesus-disalibkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 15:39:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[derita]]></category>

		<category><![CDATA[dosa]]></category>

		<category><![CDATA[jumat agung]]></category>

		<category><![CDATA[maia]]></category>

		<category><![CDATA[mati]]></category>

		<category><![CDATA[paskah]]></category>

		<category><![CDATA[salib]]></category>

		<category><![CDATA[sengsara]]></category>

		<category><![CDATA[yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Dan dekat salib Yesus berdiri ibu- Nya dan saudara ibu- Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Yohanes 19:25
Setiap hari Jumat Agung, saya selalu teringat para wanita pemberani yang nekad berdiri dekat salib Yesus. Mereka  tidak pernah sesumbar dan ngumbar janji seperti para murid. Mengapa  hanya tiga wanita yang berani berdiri di dekat Kayu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan dekat salib Yesus berdiri ibu- Nya dan saudara ibu- Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.<br />
Yohanes 19:25</p>
<p>Setiap hari Jumat Agung, saya selalu teringat para wanita pemberani yang nekad berdiri dekat salib Yesus. Mereka  tidak pernah sesumbar dan ngumbar janji seperti para murid. Mengapa  hanya tiga wanita yang berani berdiri di dekat Kayu salib di saat saat terakhir sebelum kematian? Dimana Murid yang bernama Simon Petrus yang semalam sesumbar mau mati demi guru yang dikasihinya? Dimana Thomas, Matius Yakobus dan lainnya? Tidak ada yang tahu. Yang jelas mereka sedang dicekam dengan ketakutan. Mereka takut disebut sebagai pembrontak, penghujat atau pengacau sama seperti gurunya. </p>
<p>Tulisan ini merupakan renungan pribadi bukan sebuah telaah teologis. Saya mencoba memahami alasan keberanian para wanita istimewa itu. Rupanya bukan kayu salib yang telah membuat mereka berdiri,  tetapi ikatan batin dengan orang yang disalib itulah yang telah membuat mereka berani mengambil resiko. Tentu saja bukan dengan kedua penjahat namun dengan anak Tukang kayu dari Nazaret yang dainggab sebagai penjahat. </p>
<p>Sebagai wanita yang telah mengandung selama sembilan bulan dan hidup bersamanya selama 33 tahun, Maria pasti memiliki ikatan batin yang paling kuat dengan putra yang sedang menangung sengsara.  Hatinya ikut hancur saat menatap wajah anaknya yang hancur oleh cambuk, tombak, serta pukulan para algojo romawi. Sesekali ia mengambil nafas panjang saat melihat paku, tombak dan mahkota duri  menancap di tubuh Yesus. Sesekali ia menyeka air matanya sambil menahan rasa iba. Terbersit dalam hati &#8220;kalau boleh biarlah ibu saja yang menjalani semua derita yang menimpa.&#8221; Namun sang ibu tahu diri, untuk itulah Putranya datang ke dalam dunia- mati di kayu salib untuk dosa dunia.</p>
<p>Matahari mulai condong ke  barat. Semua mata tertuju pada kayu salib berlumuran darah. Gemuruh suara caci maki bercampur, cemohoh orang farisi memenuhi bukit tengkorak. Wajah sang Bunda sudah mulai kelihatan pucat, tubuhnya gemetar dan seskali memegang dada. Ia tahu saat kebersamaan dangan sang Putra sudah tidak lama. Itulah sebabnya ia berdiri dekat salib itu. Ia ingin memberikan kekuatan batin melalui kehadirannya. Hatinya menjerit saat sang Putra berseru &#8220;Ya Bapa Ya Bapa, mengapa Engkau meninggalkan aku&#8221;. Mata sang Bunda mulai menengok ke sekeliling dan mencari para murid yang dikasihiNya. Tidak ada saupun yang berani mendekatinya kecuali Yahones. Untung saja ada Maria Magdalena yang selalu ada di sampingnya dan Maria istri Klopas. </p>
<p>Seandainya kita hidup pada saat itu dan ikut menyaksikan peristiwa itu,  beranikah kita mengambil posisi berdiri dekat dengan salib? Hanya mereka yang memiliki ikatan batin yang kuat, yang akan berani tersungkur dekat dengan salib. Seberapa dekat Anda dengan Yesus? Hubungan Anda dengan-Nya akan menentukan seberapa besar penghargaan kita pada salib itu. </p>
<p>Atas Bukit Yang Jauh<br />
Tampak Salib Hina<br />
Lambang Dari Sengsara Cela<br />
Pada Salib Itu<br />
Tuhanku Terpaku<br />
Menebus Dosa Isi Dunia</p>
<p>Tetap Kupegang Salib Kristus<br />
Hingga Tiba Akhir Hayatku<br />
Ku Tetap Pegang Salib Itu<br />
Hingga Kutrima Mahkotaku<br />
Tetap Kupegang Salib Itu<br />
Hingga Kutrima Mahkotaku</p>
<p>Salib-Nya, Salib-Nya<br />
Teramat Mulia<br />
Dosaku Disucikan Oleh Darah Yesus</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/04/06/dimanakah-anda-saat-yesus-disalibkan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NYEPI DAN KEMBALINYA JATI DIRI</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/23/nyepi-dan-kembalinya-jati-diri/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/23/nyepi-dan-kembalinya-jati-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2012 13:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<category><![CDATA[BYEPI]]></category>

		<category><![CDATA[HARI]]></category>

		<category><![CDATA[HATI]]></category>

		<category><![CDATA[KEMBALI]]></category>

		<category><![CDATA[MAWAS DIRI]]></category>

		<category><![CDATA[NURANI]]></category>

		<category><![CDATA[RAYA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[  
Kesunyian adalah teman baik pencerahan. Saat pikiran dan hati terbebas dari segala macam noise atau gangguan, maka dengan begitu mudah kita menemukan jati diri kita dan siapa yang lebih berkuasa di atas diri ini. Tidak heran, jika para nabi sering pergi ke gunung untuk menjumpai diri sendiri dan menjumpai Allah yang disembahnya. Kebiasaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <o :OfficeDocumentSettings> <o :AllowPNG /> </o> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w :WordDocument> </w><w :Zoom>0</w> <w :TrackMoves>false</w> <w :TrackFormatting /> <w :PunctuationKerning /> <w :DrawingGridHorizontalSpacing>18 pt</w> <w :DrawingGridVerticalSpacing>18 pt</w> <w :DisplayHorizontalDrawingGridEvery>0</w> <w :DisplayVerticalDrawingGridEvery>0</w> <w :ValidateAgainstSchemas /> <w :SaveIfXMLInvalid>false</w> <w :IgnoreMixedContent>false</w> <w :AlwaysShowPlaceholderText>false</w> <w :Compatibility> <w :BreakWrappedTables /> <w :DontGrowAutofit /> <w :DontAutofitConstrainedTables /> <w :DontVertAlignInTxbx /> </w> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w :LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="276"> </w> </xml>< ![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin-top:0in;
	mso-para-margin-right:0in;
	mso-para-margin-bottom:10.0pt;
	mso-para-margin-left:0in;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
</style>
<p>< ![endif]--> <!--StartFragment--></p>
<p class="MsoNormal">Kesunyian adalah teman baik pencerahan.<span> </span>Saat pikiran dan hati terbebas dari segala macam noise atau gangguan, maka dengan begitu mudah kita menemukan jati diri kita dan siapa yang lebih berkuasa di atas diri ini. Tidak heran, jika para nabi sering pergi ke gunung untuk menjumpai diri sendiri dan menjumpai Allah yang disembahnya.<span> </span>Kebiasaan mencari tempat sunyi dan berdoa adalah gaya hidup Tuhan Yesus junjungan kita.<span> </span>Di tengah kesunyian, kita bisa menemukan kekuatan yang tidak bisa ditemukan di keramaian shopping center, night club, concert atau KKR.</p>
<p class="MsoNormal">Keheningan batin bisa menjadi pintu untuk melakukan bedah rohani. Daud melakukannya setiap malam. Ia selalu mengijinkan Allah menyelidiki hatinya dengan satu tujuan, membersihkan batin dari semua kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun tidak. Membersihkan hati dari kotoran yang bisa menumpulkan rohani itu sangat penting bagi setiap orang percaya. Kegagalan melakukan cleaning service bisa berakibat fatal. Mereka yang hati nuraninya sudah tumpul bisa mengalami malapetaka tragis yang akibatnya bisa dirasakan oleh anak cucu tujuh turunan. Seandainya petugas bagian kominkasi kapal pesiar Titanic bisa menangkap pesan peringatan yang dikirim oleh dua kapal yang lain, maka Titanic bisa menghindari musibah tragis yang menelan ribuan nyawa.<span> </span>Jika manusia bisa peka dengan suara hati nurani yang jujur dan tepat, pasti ada banyak bahtera rumah tangga yang bisa diselamatkan.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Kesunyian adalah teman baik dari kejujuran. Di saat kita sendiri, kita bebas dari rasa takut dan kepura puraan. <span> </span>Di situ kita bisa jujur menjadi diri sendiri. Tidak ada topeng, tidak ada masker.<span> </span>Dan mereka yang berbahagia adalah mereka yang bebas dari sandiwara hidup. Orang orang bahagia adalah mereka yang berani transparan dan jujur dengan diri sendiri, mau menerima kelebihan dan kekurangan. Mereka yang jujur dengan diri sendiri akan menjadi teman baik bagi dirinya sendiri. Hasilnya adalah self respect dan self worth. Jika kita bisa menghargai diri sendiri, maka kita akan dihargai oleh orang lain.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kesunyian hati mempermudah komunikasi batin antara manusia dengan Penciptanya. Manusia adalah makluk rohani, maka saat ia berhasil membebaskan rohnya berkomunikasi dengan Roh yang Maha Tinggi, ia akan kembali kepada kodratnya sebagai manusia ciptaan. Bebas dari keangkuhan dan keinginan untuk menjadi Tuhan atau menggantikan Tuhan dengan kekayaan, harta, pangkat maupun kedudukan.<span> </span>“Hampirilah Tuhan, maka Ia akan menghampiri Anda,’’ dalam posisi berkomunikasi itulah manusia akan merasakan hadiratNya yang maha kudus. Tidak heran jika di dalam hadiratNya kita bisa merasakan kedamaian, sukacita dan kuasa. Karena di dalam hadiratnya kita kembali pada fitrahnya.<span> </span>Kalau begitu, sering seringlah menyepikan hati ini. Selamat hari raya Nyepi……</p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/23/nyepi-dan-kembalinya-jati-diri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KEBAIKAN ITU SEPERTI BUMERANG</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/23/kebaikan-itu-seperti-bumerang/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/23/kebaikan-itu-seperti-bumerang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2012 03:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[AMAL]]></category>

		<category><![CDATA[berbahagia]]></category>

		<category><![CDATA[dharma]]></category>

		<category><![CDATA[kasih]]></category>

		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>

		<category><![CDATA[memberi]]></category>

		<category><![CDATA[menolong]]></category>

		<category><![CDATA[Miskin]]></category>

		<category><![CDATA[sederhana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Sampai hari ini tidak ada yang tahu siapa nama lengkap kakek tua renta yang sering berdiri di depan pintu gerbang kantor Mercy Indonesia. Sayapun tidak tahu berapa umurnya dan di mana tempat tinggalnya. Penampilannya sangat sederhana dan wajahnya kelihatan  kurang bahagia. Dari raut mukanya tersirat derita yang sudah lama ia pendam. Ia selalu datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sampai hari ini tidak ada yang tahu siapa nama lengkap kakek tua renta yang sering berdiri di depan pintu gerbang kantor Mercy Indonesia. Sayapun tidak tahu berapa umurnya dan di mana tempat tinggalnya. Penampilannya sangat sederhana dan wajahnya kelihatan  kurang bahagia. Dari raut mukanya tersirat derita yang sudah lama ia pendam. Ia selalu datang ke kantor dengan kaki telanjang dan sebuat sabit di tangan. Tidak banyak bicara. Namun ia selalu datang  dengan sebuah niat yang lahir dari hati yang rela untuk bekerja membersihkan halaman. </p>
<p>Pagi itu ia duduk di depan pintu kantor  menunggu salah seorang staf yang sudah lama menjadi sahabatnya. Entah berapa jam dia duduk menanti, yang jelas tidak ada yang tahu. Kerinduannya hanya satu, ia ingin berbuat baik. Saat saya menjumpainya kakek tua itu langsung bertanya &#8220;Di mana Anes&#8221;, sambil mengulurkan bungkusan warna hitam. &#8220;Tolong sampaikan bungkusan ini kepada Anes. Saya ingin berbuat baik sebelum saya mati meninggalkan dunia ini&#8221;, ucapnya sambil meninggalkan halam kantor.  </p>
<p>Kalimat itu sederhana, dan terucap dari mulut seorang kakek yang sudah tua renta dan tidak punya apa apa. Namun ia memiliki kesadaran yang luar biasa tetang kebaikan. Di ujung kehidupannya,  ia menyadari bahwa kebaikan itu memiliki nilai kekal. Bungkusan warna hitam itu berisi tiga buah kue bronies kukus. Harganya tidak seberapa dan rasanya juga biasa saja. Namun hati rela memberi yang dimiliki oleh kakek Santram itulah yang luar biasa. Meskipun ia beragama hindu, ia tahu bahwa memberi adalah sebuah dharma yang akan diperhitungkan oleh Yang Maha Kuasa. </p>
<p>Nampaknya ia tahu persis apa arti berbuat baik. Seperti kata bijak yang sering kita dengar &#8221; memang baik jadi orang penting, tetapi jauh lebih penting jadi orang baik. Untuk menjadi orang baik, kita tidak perlu harus jadi orang penting duluan.&#8221; Jangan sampai kita lupa bahwa yang namanya kebaikan itu seperti bumerang, ia selalu kembali lagi. Selidik punya selidik, mengapa kakek Santram hanya memberikan bungkusan itu keada Anes? Karena  ia merasa hutang budi keadanya. Setiap bulan ia menerima uang 50.000 dari Anes. Anes adalah staf Mercy yang jarang bicara dan gajinya juga tidak seberapa. Namun ia mengerti apa artinya ibadah dalam karya nyata. Ia tahu firman Tuhan dalam kitab Mazmur pasal 41.</p>
<p>&#8220;Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya!  TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/23/kebaikan-itu-seperti-bumerang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BELAJAR MENERIMA KENYATAAN</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/21/belajar-menerima-kenyataan/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/21/belajar-menerima-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 02:50:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[HAPPINESS]]></category>

		<category><![CDATA[KENYATAAN]]></category>

		<category><![CDATA[MENERIMA]]></category>

		<category><![CDATA[REALITY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[&#8216;’kebahagiaan ada di tangan Anda. Cobalah belajar MEMBUKA TANGAN- Belajarlah MENERIMA semua kenyataan yang ada maka kedamaian akan menguasai hati Anda.’’
Kebahagiaan hidup datang saat ada harmoni antara keinginan dan kenyataan. Saat kenyataan jauh dari harapan, lahirlah kekecewaan. Jika rasa kecewa dibiarkan terlalu lama, maka ia bisa melumpuhkan semangat hidup dan membuahkan kegagalan. Oleh karena itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8216;’kebahagiaan ada di tangan Anda. Cobalah belajar MEMBUKA TANGAN- Belajarlah MENERIMA semua kenyataan yang ada maka kedamaian akan menguasai hati Anda.’’</p>
<p>Kebahagiaan hidup datang saat ada harmoni antara keinginan dan kenyataan. Saat kenyataan jauh dari harapan, lahirlah kekecewaan. Jika rasa kecewa dibiarkan terlalu lama, maka ia bisa melumpuhkan semangat hidup dan membuahkan kegagalan. Oleh karena itu setiap manusia harus memiliki kemampuan menguasai keinginan dan belajar mendamaikannya dengan kenyataan yang ada. Sebagai makluk ciptaan, kita harus memiliki kesadaran bahwa kita tidak bisa memilih semua kenyataan yang terjadi. Ada beberapa hal yang kita tidak bisa memilih. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi ayah atau ibu kita. Kita juga tidak bisa memilih suku, ras, warna kulit, tanggal kelahiran dan juga kematian. Semua itu hanya bisa kita terima sebagai anugerah dari Tuhan. Jika kita berusaha menolak atau mengingkari maka hati ini akan resah karena ketidapuasan.</p>
<p>Sumiyati adalah korban dari ketidak- mampuan menerima kenyataan hidup. Diawali oleh rasa tidak puas terhadap penampilan wajahnya, maka ia memutuskan untuk melakukan bedah platik murahan yang berakibat fatal. Ia menderita karena seluruh wajahnya hancur lebur lantaran suntik silikon. Menyangkali atau mengingkari kenyataan bisa melahirkan keputusan yang mencelakakan. Penderitaan akibat kesalahan pilihan itu telah membawa penyesalan seumur hidup. Nasib Sumiyati akan jauh lebih baik jika ia mau menerima kenyataan tentang wajah dan penampilannya.</p>
<p>Menerima kenyataan akan memampukan kita mensyukuri kehidupan. Dan mereka yang bisa bersyukur akan beroleh nikmat ilahi yang tidak bisa dibayar dengan uang. Karena bisa menikmati kehidupan adalah anugerah ilahi. Mereka yang dikuasai oleh rasa tidak cukup akan menderita kekuarangan. Selalu merasa kurang akan melahirkan keserakahan. Orang yang serakah akan dikuasai oleh keinginan. Biasanya mereka tidak pernah bisa menikmati hidup karena dicekam dengan kecemasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/03/21/belajar-menerima-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DIKEJAR REJEKI</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/24/dikejar-rejeki/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/24/dikejar-rejeki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 12:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[

Hari Sabtu malam dua  minggu yang lalu saya ditelpon seorang pegawai Novotel Nusa Dua.  Isi  telponnya bikin saya penasaran, “Pak Paulus, ada tamu hotel yang ingin  mengajak Anda makan malam, apakah bapak punya waktu?’’ Tentu saja saya  mengatakan “bersedia” tetapi bukan hari Senen malam, melainkan Minggu  siang jam 12.00. Sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mbl notesBlogText clearfix">
<div>
<p>Hari Sabtu malam dua  minggu yang lalu saya ditelpon seorang pegawai Novotel Nusa Dua.  Isi  telponnya bikin saya penasaran, “Pak Paulus, ada tamu hotel yang ingin  mengajak Anda makan malam, apakah bapak punya waktu?’’ Tentu saja saya  mengatakan “bersedia” tetapi bukan hari Senen malam, melainkan Minggu  siang jam 12.00. Sebelum telpon ditutup, saya bertanya tentang siapa  nama orang itu dan berapa nomer kamarnya. Namanya John Kelly, nomer  kamarnya 4170.  Nama itu agak asing di telinga saya karena memang berlum  pernah berjumpa.</p>
<p>Hari Minggu siang jam 1 saya bertemu  dengan John dan Jean Kelly. Sambil makan siang ia bertanya banyak hal  tentang hidup dan pelayanan kami. Setelah itu mereka memperkenalkan diri  dan mengutarakan niat hatinya. Begitu mendengar kisah hidup dan  prestasi yang telah diraihnya, hati ini begitu bangga dan penuh syukur  karea dipertemukan dengan orang orang yang hebat. John Kelly adalah  warga negara Australia. Sebagai seorang pensiunan pegawai negeri, ia  tidak mau tinggal diam hanya menikmati hari tua. Tuhan telah memberikan  keahlian kepadanya untuk mendatangkan uang. Uang yang didapatnya bukan  untuk memperkaya diri namun untuk membantu pekerjaan Tuhan. Ia pernah  memberi 3 juta dolar dalam setahun dari hasil usahanya. Ada sekitar 40  pelayanan yang disumbang olehnya.</p>
<p>“Mengapa Anda mencari  saya,” itulah pertanyaan yang saya berikan kepadanya sambil  menyelesaikan caesar salad di atas meja. Jawabanya mengejutkan. “Tuhan  membangunkan saya pada jam dua pagi, kemudian saya berdoa. Dalam doa itu  saya mengingat nama Anda dan harus bertemu dengan Anda,” jelasnya  dengan nada yakin. Saya lanjut bertanya “dari mana Anda tahu nama saya.”  “Saya tahu nama Anda dari Ian Cook, Saya rindu bisa mendukung pelayanan  Anda dengan dana,” jawabnya sambil mengulurkan kartu nama dan sebuah  majalah.</p>
<p>Minggu itu merupakan minggu pembelajaran yang  luar biasa. John and Jean Kelly datang ke Bali untuk berbagi rejeki  karena digerakan oleh Tuhan. Selama ini mereka telah berdoa untuk   menemukan partner yang bisa dipercaya. Ketika kita melakukan apa yang  ada di hati Tuhan, maka hati Tuhan akan terarah pada kita. Mungkin Ada  diantara kita yang bingung, sebetulnya apa yang ada di hati Tuhan? Yang  ada di hati Tuhan adalah mereka yang menderita, terbelenggu, tertindas,  dan terhilang. Saat mereka berseru kepada Nya, maka Ia akan menggerakan  hati kita untuk menjangkau dan menolong mereka.  &#8221;Roh Tuhan ada pada-Ku,  sebab Ia sudah melantik Aku untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang  miskin. Ia mengutus Aku untuk mengumumkan pembebasan kepada orang  tertawan dan kesembuhan bagi orang buta; untuk membebaskan orang  tertindas  dan memberitakan datangnya saat Tuhan menyelamatkan  umat-Nya.&#8221; Lakukanlah apa yang ada di hati Tuhan, maka Tuhan akan  melakukan apa yang ada dihatimu.  Ia akan mengirimkan orang, berkat,  mujizat dan kuasa-Nya untuk menggenapi rencana-Nya.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/24/dikejar-rejeki/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TRAGEDI GEREJA KOSONG</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/11/kesalahan-fatal-para-pemimpin-kristen/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/11/kesalahan-fatal-para-pemimpin-kristen/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 10:49:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[GEREJA]]></category>

		<category><![CDATA[KESLAHAN]]></category>

		<category><![CDATA[MISI]]></category>

		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>

		<category><![CDATA[PENGINJILAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Pencerahan hati memang bisa datang kapana saja, di mana saja dan dari siapa saja. Salah satu pehayuan pribadi itu saya terima saat mengikuti konggres Australian Christian Church (AOG Australia) tahun lalu. Salah satu pembicara utama yang sangat memberkati adalah Pdt. Steve Murrel dari Manila. Sebagai seorang hamba Tuhan yang cukup berhasil dalam penjangkauan dan pemuridan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Pencerahan hati memang bisa datang kapana saja, di mana saja dan dari siapa saja. Salah satu pehayuan pribadi itu saya terima saat mengikuti konggres Australian Christian Church (AOG Australia) tahun lalu. Salah satu pembicara utama yang sangat memberkati adalah Pdt. Steve Murrel dari Manila. Sebagai seorang hamba Tuhan yang cukup berhasil dalam penjangkauan dan pemuridan, ia tidak segan segan berbagi pengalaman dan keprihatinan. Catatan berikut ini adalah intisari pernyataan beliau yang bisa merenovasi pola pikir kita selama ini.</span></p>
<p>&#8220;Tuhan Yesus tidak pernah meminta kita untuk membangun gereja. Ia hanya mengamanatkan kita untuk membangun murid. Ketika kita berhasil membangun komunitas murid maka Tuhan Yesus akan membangun gereja-Nya.&#8221; Banyak mata yang terbelalak saat mendengar kalimat itu. Secara pribadi saya ditemplak dan rasa seperti digebugi dalam hati. Jujur saja, selama ini kita berfokus membangun gedung gereja, denominasi gereja, atau merintis gereja namun kurang dalam pemuridan. Awasan bagi kita semua, ketika kita berlomba membangun gedung, fasilitas, program atas nama pelayanan dan lupa membangun orang, maka kita akan menyaksikan tragedi &#8220;gereja kosong&#8221; seperti di Eropa. Begitu banyak gedung gereja yang megah, mahal, dan mewah namun di dalamnya sudah tidak ada murid. Tidak heran jika negara ini menyebut dirinya sebagai negara &#8220;post christianity&#8221;. Semoga hal seperti itu tidak terjadi di Indonesia.</p>
<p>Ucapan kedua merupakan keprihatinan pak Steeve yang merupakan hasil penelitian. Fakta di lapangan menunjukan bahwa masih banyak gembala sidang yang menghabiskan waktu untuk membangun pelayanan tetapi lupa membangun orang. Pengurus sinode sibuk mengurus program dan aset gereja dan lupa mengembangkan dan melatih para pendeta. Saya jadi ingat kalimat Richard Green &#8220;leadership builds people, ministries build a church&#8221;. Coba sekarang lakukan test case untuk diri sendiri. Dalam satu minggu ini berapa banyak waktu yang dipakai untuk kegiatan pelayanan seperti mendoakan orang, konseling, khotbah, kunjungan, mengajar sekolah minggu, dll. Dan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk membangun, melatih, mengembangkan dan memerlengkapi orang percaya? Saya mendengar masih ada gembala sidang yang main musik, kunjungan, konseling, pimpin pujian dan khotbah dilakukanya sendiri. Tidak heran jika gerejanya tidak mengalami kemajuan.</p>
<p>&#8220;Jangan membangun gereja di atas program, bangunlah gerejamu di atas dasar pemuridan yang kuat.&#8221; Sekali lagi para peserta konggres dibuat berfikir, termasuk saya. Selama ini kita sering mengukur kemajuan gereja berdasarkan banyaknya program yang kita buat baik jangka pendek maupun jangka panjang. Akbatnya kita mengukur kerohanian jemaat berdasarkan keterlibatan mereka dalam melaksanakan program. Suatu contoh, seorang jemaat yang hadir di gereja setiap hari akan dipandang sebagai jemaat yang akif dan rohani. Memang sudah seharusnya gereja memiliki program, namun jika program tidak membawa jiwa baru dan pemuridan, maka sia sialah program yang menghabiskan banyak dana.</p>
<p>Bagaimana mungkin jemaat bisa memenangkan jiwa baru kalau setiap hari hanya bergaul dengan orang kristen dalam komunitas gereja? Untuk memenangkan orang berdosa, harus ada yang bergaul dengan orang berdosa, yang penting tidak ikut berbuat dosa. Bukankah Yesus sering dijuliki sebagai sahabat orang berdosa? Mari kita merenung sejenak dan mengevaluasi diri. Apakah kita masih sibuk dengan kegiatan yang sifatnya pelayanan atau memperlengkapi orang untuk melayani? Anda semua pasti tahu jawabannya. Ingatlah &#8220;Kepemimpinan membangun orang, pelayanan membangun gereja&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/11/kesalahan-fatal-para-pemimpin-kristen/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KEBAHAGIAAN DAN KEBERHASILAN</title>
		<link>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/09/kebahagiaan-dan-keberhasilan/</link>
		<comments>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/09/kebahagiaan-dan-keberhasilan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 01:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Paulus W.</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pauluswiratno.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[
Beberapa tahun yang lalu saya dapat undangan istimewa untuk menghadiri seminar pertumbuhan gereja di Bogota. Dalam undangan lewat email itu tertlulis nama pembicara seminar dan sejarah pelayanannya. Melihat nama Caesar Castelanos sebagai pembicara utama, saya langsung tertarik untuk mengikutinya, apalagi transport dan hotel dibayari oleh rekan saya dari Yuma Arizona. Hati ini terasa tidak sabar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <o :OfficeDocumentSettings> <o :AllowPNG /> </o> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w :WordDocument> </w><w :View>Normal</w> <w :Zoom>0</w> <w :TrackMoves /> <w :TrackFormatting /> <w :PunctuationKerning /> <w :ValidateAgainstSchemas /> <w :SaveIfXMLInvalid>false</w> <w :IgnoreMixedContent>false</w> <w :AlwaysShowPlaceholderText>false</w> <w :DoNotPromoteQF /> <w :LidThemeOther>IN</w> <w :LidThemeAsian>X-NONE</w> <w :LidThemeComplexScript>X-NONE</w> <w :Compatibility> <w :BreakWrappedTables /> <w :SnapToGridInCell /> <w :WrapTextWithPunct /> <w :UseAsianBreakRules /> <w :DontGrowAutofit /> <w :SplitPgBreakAndParaMark /> <w :EnableOpenTypeKerning /> <w :DontFlipMirrorIndents /> <w :OverrideTableStyleHps /> </w> <m :mathPr> <m :mathFont m:val="Cambria Math" /> <m :brkBin m:val="before" /> <m :brkBinSub m:val="&#45;-" /> <m :smallFrac m:val="off" /> <m :dispDef /> <m :lMargin m:val="0" /> <m :rMargin m:val="0" /> <m :defJc m:val="centerGroup" /> <m :wrapIndent m:val="1440" /> <m :intLim m:val="subSup" /> <m :naryLim m:val="undOvr" /> </m> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w :LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w :LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w :LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 10]><br />
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin-top:0cm;
	mso-para-margin-right:0cm;
	mso-para-margin-bottom:10.0pt;
	mso-para-margin-left:0cm;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
	mso-fareast-language:EN-US;}
</style>
<p> < ![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Beberapa tahun yang lalu saya dapat undangan istimewa untuk menghadiri seminar pertumbuhan gereja di Bogota. Dalam undangan lewat email itu<span> </span>tertlulis nama pembicara seminar dan sejarah pelayanannya. Melihat nama Caesar Castelanos sebagai pembicara utama, saya langsung tertarik untuk mengikutinya, apalagi transport dan hotel dibayari oleh rekan saya dari Yuma Arizona.<span> </span>Hati ini terasa tidak sabar untuk mendengar ceramah seorang<span> </span>gembala sidang yang jemaatnya berjumlah 200.000. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Setelah menempuh perjalanan hampir 40 jam, sampailah kami di kota Bogota. Kata orang, <span> </span>Bogota lebih dikenal sebagai kotanya para gembong narkoba. <span> </span>Sekilas memang ada pemandangan yang mengerikan. Setiap 500 meter ada dua tentara bersenjata lengkap. Namun setelah kami sampai di gereja Calvary Charismatic International, saya melihat pemandangan yang jauh berbeda. Saat acara pembukaan seminar dimulai, hadirat Tuhan benar benar terasa di jiwa. Rasanya seperti berada di surga. Menyembah Tuhan bersama 20.000 peserta yang berasal dari 137 negara. Sungguh pengalaman yang luar biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Di samping saya berdiri deretan para pendeta dari Korea. Mereka sudah siap dengan laptop, buku catatan, ipad dan semangat belajar yang tinggi. Sesi pertama langsung dibawakan oleh pendeta Castelanos dan ibu Claudia. Hati ini sudah tidak sabar menanti.<span> </span>Ketika suami istri menuju ke podium, semua hadirin terdiam menanti. Semua siap dengan catatan masing masing. Pdt. Caesar membuat pernyataan yang membuat banyak peserta tercengang, karena kata katanya sederhana, tidak di sangka, dan kebenarannya begitu dalam. “Ada hubungan yang erat antara pertumbuhan gereja dan kebahagiaan rumah tangga. Kalau Anda ingin menumbuhkan pelayanan gereja Anda, langkah pertama bahagiakanlah istrimu,” ucap pak Casteanos. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Kalimat itu disambut dengan kata kata “amen” oleh peserta wanita, yang kebanyakan adalah istri pendeta. Dan sebagian pria tersenyum sedikit tidak percaya. Malam itu saya merenungkan ucapan pak Casrtelanos yang<span> </span>memberi pencerahan. Memang ada hubungan antara kebahagiaan dan produktivitas.<span> </span>Orang orang yag bahagia cenderung<span> </span>lebih produktif dari pada yang kurang bahagia. Benarlah apa kata orang bijak, ‘’bukan sukses yang membuat orang bahagia, tetapi bahagia yang membuat orang sukses.’’<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Tugas utama seorang pendeta adalah menjaga dirinya supaya <span> </span>tetap bahagia. <span> </span>Karena tidak mungkin kita bisa membahagiakan pasangan hidup dan anak anak, jika kita sendiri masih mengalami defisit kebahagiaan. Jika kita berhasil membuat istri bahagia, <span> </span>kita keluar dari rumah untuk mengerjakan pelayanan dengan hati yang bahagia. “Happy wife, happy life”. Jika rumah tangga <span> </span>tidak bahagia, maka kita diibaratkan seperti seorang tentara yang kalah sebelum berperang, kata pak Henry Ramaya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Korelasi antara kebahagiaan dan produktifitas juga diteguhkan oleh rekan saya yang tergolong berhasil dalam usaha. Namanya Kylie William, seorang pengusaha yang bergerak dalam bidang mini market dan pom bensin di Oklahoma. <span> </span>Beberapa tahun lalu ia mengundangku untuk berbicara di hadapan <span> </span>ratusan karyawan yang bekerja di 34 unit usahanya. <span> </span>Salah satu nilai yang ditanamkan oleh Kylie William dalam usahanya adalah, ’’karyawan yang bahagia akan membuat pelanggan bahagia. Dan pelanggan yang bahagia akan membelanjakan lebih banyak uangnya .” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Marilah dengan jujur kita mengajukan pertanyaan ini pada diri sendiri, “apakah aku melayani Tuhan dengan hati yang bahagia?” Tolong tanyakan pada pasangan hidup Anda “apakah engkau bahagia hidup bersamaku?’’ Jika jawaban <span> </span>salah satu “tidak bahagia,” sudah waktunya anda melakukan “time out” untuk memperbaiki pernikahan Anda. Jangan sampai kita melayani Tuhan dengan hati yang masih terluka. Ingat baik baik “orang yang terluka cenderung melukai orang lain.”<span> </span>Semoga renungan ini bisa menjadi berkat. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pauluswiratno.com/index.php/2012/02/09/kebahagiaan-dan-keberhasilan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

