LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com

  • Paulus Wiratno

BELAJAR DARI KESALAHAN PILATUS

Jauh di lubuk hatinya gubernur Pilatus tahu persis, bahwa Yesus tidak salah. Ia sadar Yesus tidak berbuat jahat, meski banyak tuduhan tang dilemparkan kepadanya dari para imam dan tua tua Yahudi. Kalimat ini meneguhkan isi hati Pilatus “Tetapi apa kejahatan-Nya?" tanya Pilatus. Lalu mereka berteriak lebih kuat lagi, "Salibkan Dia!"


Hati nurani Pilatus bersaksi bahwa Yesus tidak bersalah. Tetapi mengapa ia membebaskan Barabas dan membiarkan orang Yahudi menyalibkan anak tukang kayu itu. Inilah kesalahan terbesar sang gubernur. Ia mengetahui kebenaran tetapi melakukan kesalahan.


Dibalik setiap keputusan ada motivasi hati yang tersembunyi. Ia berani membebaskan Barabas karena “Pilatus ingin menyenangkan orang banyak itu, maka ia melepaskan Barabas untuk mereka. Kemudian ia menyuruh orang mencambuk Yesus, lalu menyerahkan-Nya untuk disalibkan.” Takut apa kata orang dan takut kehilangan tahta merupakan motivasi utama. Bagi Pilatus, jabatan adalah segala galanya meski harus mengotori nurani untuk mempertahankannya.


Untuk membersihkan hati nuraninya, Pilatus mencuci tangannya sebagai simbol bahwa dirinya tidak bersalah. Namun sekali lagi ia melakukan kesalahan besar. Cuci tangan tidak menyelesaikan segalanya. Kalau kita tahu kebenaran, dan kita bebuat salah maka kita sedang berbuat dosa.


Paskah selalu mengingatkan Pilatus, betapa buruk dirinya sebagai penguasa. Memiliki kuasa tidak menjamin anda punya kekuatan untuk selalu melakukan kebenaran. Jangan mengorbankan kebenaran hanya demi apa kata orang. Jangan membunuh kebenaran hanya demi ambisi untuk terus berkuasa. Lebih baik kehilangan kekuasaan tetapi bisa mewariskan nilai kehidupan, daripada memiliki kuasa tetapi tidak bisa mewariskan keteladanan hidup.



213 views