• Paulus Wiratno

BERBURU MANGGA JATUH

Suara burung pipit dipagi hari membangunkan aku dari tidur pulas. Hangatnya sinar mentari dari jendela menyeruak ke dalam kamar hotel yang terlihat kumuh dan kurang terurus. Jalanan kota masih sepi. Udara pagi kota Dili masih diselimuti asap dari rumah yang terbakar akibat perang saudara. Setelah melipat tangan dan menyapa yang Maha Kuasa, aku memberanikan diri keluar melihat keadaan di luar kompleks hotel, namun sayang pintu gerbang masih belum dibuka. Akupun duduk menanti sambil mengamati wajah bocah bocah kotor yang berdiri di luar pintu gerbang.


Jarum jam tepat menunjukan pukul 06.00 pagi. Satpam berseragam hitam hitam itu membuka pintu gerbang. Tiba tiba aku melihat empat bocah lari menuju pohon mangga di halaman hotel. Tangan mereka dengan cekatan mengambil mangga mentah yang jatuh dari pohon. Ada senyum di mata mereka saat bisa menggenggam sambil mengunyah mangga yang ada di tangan. Akupun melihat wajah wajah kelaparan.


Sebuah pemandangan pagi yang menyentak hati. Wajah wajah kotor yang lapar. Akupun mengajak mereka duduk dan bertanya pada kakak yang tertua. “Siapa namamu dan dimana ayah ibumu?”. Dengan sedikit rasa takut, yang paling tua menenjawab “ Nama saya Maria Lopez, kami tidak tahu dimana papa dan mama sekarang”. Jawaban Maria dengan logat timor. Jawaban Maria membuat mataku berkaca kaca. Anak anak ini terpisah dengan orang tuanya setelah pecah perang saudara. Kini Maria yang baru 11 tahun harus menghidupi ketiga adiknya tanpa rumah dan orang tua. Setiap hari ia menyusuri jalan mencari kaleng dan botol bekas. Haruskah mereka menderita diumur yang masih belia?


Pertanyaan itu terngiang di pikiran dan telingaku. Wajah anak anak itu lengket dimataku berminggu minggu. Dilubuk hati ada suara bagaikan panggilan dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang “apa yang akan kamu lakukan untuk menolong mereka”. Akupun menutup mata “Tuhan berikan aku daya untuk membangun sebuah panti asuhan untuk anak anak seperti Maria.


Itulah secuil kenangan yang tidak akan pernah kulupakan. Kenangan di kota Dili 19 tahun yang lalu. Aku tidak menyangka kalau pertemuan dengan 4 bocah itu menjadi sebuah awal perjalanan panjang lahirnya Yayasan Mercy Indonesia. Betapa kaget hati ini saat aku mendapatkan ‘long distance call’ dari seorang pria di Amerika yang mengatakan ‘Paulus, perkenalkan nama saya Craig Muller, maukah anda kerja sama dengan kami membangun sebuah panti asuhan untuk anak anak korban kerusuhan dari Timor Leste?”. Tanpa pikir panjang akupun berkata ‘Yes sir, I have been thinking and praying for that ministry”.


Tidak ada yang namanya sebuah kebetulan dalam kamusnya Tuhan. Gunakanlah mata jiwa anda untuk menangkap apa yang menjadi panggilan ilahi dalam hidup ini. Siapa tahu apa yang anda lihat akan menjadi petunjuk masa depan kita. Jangan pernah takut melangkah menjalani suara hati. Kalau visi dan mimpi itu dari Allah, Ia tidak akan membiarkan kita sendiri. Sorga akan mengirim kuasa, daya dan dana supaya rencana-Nya terlaksana. Kita hanyalah hamba yang diberi anugerah untuk menjadi ‘rekan sekerja-Nya’.


0 views

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com