• Paulus Wiratno

CINTA DAN HARGA

Anda akan kesulitan mencintai jika tidak pernah menghargai. Tanpa penghargaan, cinta hanyalah sebatas ucapan, dan tidak akan pernah ada tindakan. Belajar dari apa yang Yesus lakukan dalam kehidupan keseharian. Mengapa Ia mau berlayar bertaruh nyawa ke dusun Gerasa hanya demi satu orang gila? Bagi Yesus, jiwa orang gila sangat berharga. Mengapa Ia mau singgah di sebuah sumur bangsa Samaria yang dianggap najis demi seorang wanita yang ‘kumpul kebo’. Karena bagi Yesus jiwa yang ‘najis’ juga sangat berharga.


Allah adalah kasih, dan barang siapa yang memgaku sebagai ‘hamba Allah’ hidupnya harus dijiwai oleh cinta kasih. Kasih selalu menuntut tindakan nyata bukan sekedar wacana. Kasih tidak memandang strata, harta, permata atau tahta. Kasih sejati dilandasi oleh penghargaan terhadap ‘jiwa’ yang pemberian Allah dari sorga. Itulah sebabnya melayani Allah tanpa diawali dengan penghargaan terhadap jiwa jiwa, tidak akan pernah melahirkan pelayanan yang murni.


Apa yang anda lihat saat berjumpa dengan tetangga? Merk mobil? Gelar? Status ekonomi? Jika motivasi pelayanan didekte oleh apa yang bisa menguntungkan, anda tersesat di jalan panggilan. Pelayanan bukan tempat mengeruk keuntungan. Pelayanan juga bukan tempat mendongkrak harga diri. Intisari melayani adalah memberi. “To serve ia to give” Sebaiknya merenung dan menilik hati dengan jujur. Jika anda melihat jiwa jiwa sebagai ‘alat’ bukan sebagai pribadi yang dihargai Allah, bertobatlah. Jangan sampai anda terperangkap dalam lagu “mencari domba yang lezat, itulah kerinduan jiwaku”.


Marilah kita melihat jiwa sebagaimana Yesus melihatnya. Saat Ia melihat orang banyak yang lapar, Ia melihatnya sebagai ‘domba yang tidak bergembala”. Saat Yesus bertanya kepada Petrus ‘apakah kamu mengasihi aku?’ Ia melanjutkan “gembalakanlah domba domba-Ku”. Jiwa manusia begitu berharga, maka kanhan heran jika Allah merelakan anak-Nya yang tunggal untuk menebus kembali jiwa jiwa yang terancam hukuman dosa.

Penghargaan atas jiwa itulah yang membuat Allah turun sendiri ke dalam dunia “Karena begitu besar kasih Allah akan ‘jiwa manusia’ maka diberikannya anak-Nya yang tunggal”

Cintamu kepada Allah sebaiknya dinyatakan dalam cinta pada sesama. Penghargaanmu kepada Allah, baru bisa dilihat saat kita bisa menghargai sesama manusia tanpa memandang agama, suku dan bangsa. Itulah sebabnya cara terbaik melayani Allah adalah dengan melayani sesama. Mudeng?????



54 views

Recent Posts

See All

BELAJAR DARI LAYANG LAYANG

Kelihatannya sederhana namun kaya dengan makna. Hampir semua orang tahu mainan layang layang, namun tidak semua pernah memainkannya. Waktu masih kecil, itulah mainan unggulan di musim kemarau. Saya se

AKU KUAT KARENA FIRMAN

Seorang janda dengan tujuh anak mengakui betapa besar berkat yang ia terima lewat pelayanan Radio Suara Kasih Papua. "Hidup ini terasa sangat berat setelah suami saya meninggal dunia. Saya tidak tahu

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com