LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com

  • Paulus Wiratno

CINTAI ISTRIMU DENGAN AGAPE

Suami, kasihilah istrimu, sama seperti Kristus mengasihi jemaat serta mengurbankan diri-Nya untuk jemaat itu. Kristus melakukan itu supaya Ia dapat membersihkan jemaat itu dengan ajaran-Nya dan melalui air baptisan, supaya kemudian Ia dapat menyerahkan-Nya kepada Allah.”

Peritah rasul Paulus ini sangat istimewa dan berkuasa menyelamatkan serta membahagiakan pernikahan. Seandainya semua suami memahami amanah ini, banyak perceraian bisa dicegah dan jutaan pernikanan diselamatkan. Namun sayang, ayat ini jarang dibahas atau dikhotbahkan. Padahal kualitas pernikahan sangat tergantung dari kualitas pemahaman akan ‘cinta agape’

MENCINTAI DENGAN CINTA KRISTUS

Ini memang berat tetapi hebat. Para suami harus mencintai istrinya dengan kasih ‘agape’, bukan hanya kasih eros atau philia. Kasih yang hanya dilandasi oleh perasaan dan penglihatan tidak akan bertahan lama. Pernikahan adalah pertemuan dua manusia yang tidak sempurna. Masing masing membawa kekurangan dan kelemahan. Dua orang yang tidak sempurna hanya bisa dipersatukan oleh ‘kasih yang sempurna’ yaitu kasih Allah Bapa. Kasih ‘agape’ adalah kasih tanpa syarat, kasih walaupun, kasih tanpa batas dan kasih yang berkorban. Sama seperti Kristus rela mati demi gereja-Nya demikianlah para suami harus mencintai istrinya.


CINTA YANG BERKORBAN

Cinta agape adalah cinta yang berkorban. Anda bisa memberi tanpa kasih namun tidak mungkin anda mengasihi tanpa memberi. Yesus rela memberi dirinya sebagi korban demi umat manusia. Semangat pengorbanan yang sama harus dimiliki oleh setiap suami. Memberi nafkah jasmani dan rohani saja tidak cukup. Suami harus berani korbankan kesenangan, impian dan perasaan demi istrinya. Terkadang terasa sangat berat untuk dipraktekan, namun ujung ujungnya kita yang akan menikmatinya. Jika istri menyadari bahwa suaminya telah berkorban, ia akan menyimpulkan dirinya dicintai. Dan rasa cinta itulah yang akan membuat istri mendukung dan menghargai suaminya. Cinta itu melindungi, memulihkan dan menyembuhkan.


CINTA ITU MEMBERSIHKAN

Sama seperti Kristus menyucikan geteja-Nya dengan firman, demikiankah para suami punya tanggung jawab membersihkan istrinya dengan ‘perkataan’ atau Rhema. Perkataan itu bisa menyucikan hidup manusia. Ucapan yang membangun, menasehati, memberkati bisa memunculkan prilaku yang baik. “Perkataan ramah serupa madu; manis rasanya dan menyehatkan tubuh... Perkataan orang dapat merupakan sumber kebijaksanaan dalam seperti samudra, segar seperti air yang mengalir.” (Amsal)


Jangan pernah mengucapkan kata kata yang kasar, menghakimi, merendahkan atau memojokan pasanganmu. Perkataan itu punya khasiat membangun atau menghancurkan. Ingatlah nasehat Firman Allah. Lidah mempunyai kuasa untuk menyelamatkan hidup atau merusaknya; orang harus menanggung akibat ucapannya. (Amsal 18:21) Belajar mengucapkan kata yang mambangun, memuji dan menasehati, maka prilaku positif yang akan menjadi hasilnya. Perkataan baik yang lahir dari cinta sejati melahirkan pribadi yang menyenangkan hati.


CINTA SELALU PAKAI KACAMATA POSITIF

Sama seperti Kristus yang rela membayar harga, suami harus selalu menghargai istrinya. Cinta selalu datang dari penghargaan. Dan penghargaan selalu datang dari nilai yang kita berikan pada sesuatu. Ada orang yang berani merogoh koceknya hingga ratusan juta untuk sebongkah batu yang dipercayainya bisa dijadikan permata. Namun sebagian orang hanya meluhihatnya sebagai batu biasa. Perspektif kita menentukan penilaian kita. Jika kita melihat pasangan hidup dengan penghargaan yang lahir dari cara pandang yang benar, maka cintalah yang menjadi hasil akhirnya.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”



83 views