• Paulus Wiratno

JIN KAFIR DI KAYU SALIB

Pernyataan seorang Ustad bahwa ada Jin Kafir di kayu salib tidak boleh ditanggapi dengan emosional. Anda juga tidak boleh marah dan menganggap ucapannya sebagai penghinaan. Bukankah salib memang tempat penghinaan? Bagi mereka yang tidak paham arti salib, itu adalah kebodohan seperti kakata rasul Paulus “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”


Anda harus bisa melihat dari mana sang ustad memahami arti salib. Makna salib itu bukan ada di kayu salib tetapi ada di benak masing masing orang. Bagi orang Yahudi itu adalah penghinaan, bagi orang Romawi salib adalah kebodohan bagi banyak orang itu hanyalah sebuah simbol penderitaan. Tetapi bagi mereka yang sudah mengalami salib atau mendapat pencerahan hati, salib adalah simbol kasih sayang seorang anak manusia yang rela menanggung kesalahan dan dosa orang orang yang dikasihinya. 


Karena itu jangan marah terhadap pak ustad, tetapi doakan supaya suatu saat bisa mendapatkan pencerahan dari Allah. Sama seperti Saulus yang berjumpa dengan Yesus yang disalib. Ia buta selama tiga hari kemudian bisa melihat kembali. Setelah mendapatkan pencerahan, ia mengabdikan dirinya untuk memberitakan kuasa salib dari perspektif sorga bukan dunia.  Jangan lupa, tidak ada yang namanya kebetulan dan kamusnya Tuhan. Kata ‘Salib’ menjadi terkenal lantaran ceramah pak ustad. Bersyukurlah.


Apakah benar ada Jin Kafir di atas salib?  Hanya pak ustad yang tahu.  Jangan kaget, karena iblis memang punya rencana untuk menghabisi nyawa Yesus di kayu salib. Makanya waktu Yesus mati, neraka mengadakan syukuran kemenangan. Mereka lupa bahwa  di kayu salib justru iblis dikalahkan karena darah yang mengalir dan menetes ke bumi dari tubuh Yesus.  Jadi kemungkinan, Jin Kafir itu belum paham kuasa salib, sebab kalau dia paham, pasti dia akan lari dari salib. Namanya juga belum paham, jadi harus dimaklumi dan diampuni. Bukankah di kayu salib itu Yesus mengucapkan kata “Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat?”


Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. (Wahyu12:11-12)


Jadi tidak usah emosi, tersinggung, menuntut atau marah. Yesus saja tidak tersinggung waktu dihina, disiksa, diludahi mukanya. Justru di atas salib dia memberikan pengampunan. Tidak ada sakit hati atau dendam. Bukankah Guru Agung kita mengajarkan “kasihilah musuhmu”?  Disinilah kita melihat kualitas ajaran dan keyakinan mana yang datang dari sorga. Kalau anda percaya Allah maha pengasih atau Allah itu kasih, maka sudah seharusnya kita hidup dalam kasih, bukan kebencian bukan penghinaan.


“Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.”



0 views

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com