• Paulus Wiratno

MEMAHAMI ARTI PENDERITAAN

Penderitaan adalah bagian dari kehidupan. Sadar atau tidak, kita semua sudah pernah melewatinya, sedang atau akan melewatinya lagi. Bagi sebagian orang penderitaan merupakan penjara kehidupan. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai kutukan dari Yang Maha Kuasa. Namun bagi mereka yang optomis dengan hidup, penderitaan bagaikan pupuk untuk tanaman, kotor dan berbau. Namun jika dibiarkan dalam waktu tertentu, pupuk itu akan menghasilkan dampak yang baik. Tanaman menjadi subur dan buahnya bisa dinikmati.


Demikian juga dengan derita yang pernah singgah dalam hidup kita. Untuk sementara mungkin banyak airmata karena jiwa atau raga yang sengsara. Namun jika kita melihatnya dengan kacamata dari sorga, semuanya bukanlah hal yang sia sia. Namun kita bisa mengubahnya menjadi suplemen bagi jiwa.


Maka jangan heran jika seorang rasul pernah mengatakan “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”


Selain sebagai ‘pupuk’, derita bisa menjadi cahaya. Dalam keadaan terpuruk, terjepit dan terhempas, manusia akan mencari pegangan dan tempat bersandar untuk bertahan. Terkadang, kesulitan bisa menjadi penuntun untuk menemukan hidayah dari Allah. Penderitaan bisa berubah menjadi ‘cahaya’ pencerah hati.


Rasul Paulus pernah berdoa agar ia terbebas dari ‘kanker mata’. Ia sudah berdoa meminta Allah mencabutnya. Namun yang ia dapatkan adalah suara peneguhan yang bertolak belakang dengan harapan. “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu”. Di dalam ‘kasih karunia’ ada ‘damai sejahtera’. Itulah sebabnya dalam setiap surat rasul Paulus kita menemukan dua kata ini “Grace and Peace’. Penderitaannya menjadi pencerahan bagi sang rasul dan kita semua yang membaca suratnya.


Penderitaan juga bisa menjadi batu loncatan bagi mereka yang percaya kepada Allah. Bagi Yusuf, penjara hanyalah sebuah tempat transit menuju istana raja. Bagi Daud, medan perang adalah tempat promosi menuju istana. Saya jadi ingat tempat pengungsian di Pangkalan Angkatan Laut Halong-Ambon. Bagi sebagian orang tempat itu merupakan akhir dari segalanya, tetapi bagi keluarga kami, tempat itu adalah sebuah lahan persemaian iman yang telah mengantar kami menuju karya Allah yang luar biasa di Bali.


Jangan pernah takut menderita. Jangan gentar menghadapi kesulitan atau pergumulan hidup. Karena hidup baru bisa dikatakan hidup jika anda penah mengalami pergumulan hidup. Selama hidup paati akan ada kesulitan dan masalah. Di dunia ini tidak ada tempat yang bebas dari masalah kecuali liang kubur.


Bagaimana caranya supaya kita mampu mengubah ‘derita’ menjadai ‘cahaya’? Gunakanlah lensa kehidupan yang benar. Lensa ‘kebenaran firman’ itulah yang akan menolong kita menterjemahkan semua kenyataan. Orang yang hidup dalam firman bagaikan tanaman yang ditanam di tepi aliran sungai. Daun tetap hijau, akarnya merambat ke tepi batang air, selalu menghasilkan buah dan selalu berhasil.



0 views

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com