• Paulus Wiratno

MEMAHAMI PANGGILAN ILAHI

Updated: Oct 20, 2019

Mereka yang telah menemukan panggilan hidupnya, sebaiknya meyakini, menghidupi dan menjaganya dengan segenap hati. Ada waktu dalam hidup dimana keyakinan begitu kuat, gairah terus membara bahkan berani bertaruh nyawa. Namun sadarlah bahwa kondisi pelayanan tidak selalu sama. Ada musim kelimpahan, ada musim paceklik. Ada musim sukacita, ada pula saatnya kebanjiran airmata. Ada watu semua kelihatan lancar tanpa hambatan, namun ada juga 'onak dan duri' yang melukai langkah kaki ini.


Tidak ada yang tahu pasti, kapan badai kehidupan akan menghampiri. Sama seperti angin ribut yang tiba tiba menerpa perahu para murid saat menyeberang danau Galilea menuju ke desa Geraza. Semua murid berteriak karena merasa akan binasa. Padahal ada Guru Agung yang sedang tidur di dalam perahu. Dalam situasi panik, kita semua bisa dengan mudah bereaksi berdasarkan rasa dan mata. Padahal dalam kondisi sulit, hanya iman yang bisa menenangkan hati kita.


Bertahan dalam panggilan memang tidak semudah yang kita ucapkan. Banyak kenyataan yang diluar harapan. Tidak sedikit yang putus di tengah jalan dan berganti profesi karena tidak tahan menghadapi pahitnya pengalaman. Tutuntan pelayanan memang berat. Tidak heran jika banyak yang terluka, kecewa, babak belur bahkan mundur teratur. Tidak heran jika menurut hasil suver 90 persen pelayan Tuhan setelah melayani lima tahun banyak mengalami keletihan dan memiliki cara pandang yang rendah terhadap gambar dirinya.


Untuk itu kita semua harus sepakat dengan rasul Paulus bahwa panggilan pelayanan adalah panggilan Tuhan. Kesadaran ini akan membuat kita tidak mudah goyah di tengah tantangan dan tuntutan pelayanan. Saat kerasulannya ditantang, Paulus dengan keyakinan yang teguh mengatakan bahwa panggilan hidupnya bukan datang dari kehendak manusia atau kehendaknya sendiri, tetapi kehendak Allah. Karena itu ia begitu yakin jika Tuhan pasti akan membela, dan memberi otoritas penuh. Jika Tuhan memanggil kita, Dia tidak akan memanggil dan mengutus kita dengan tangan kosong.


Tuhan yang memanggil, pasti bertanggung jawab atas panggilannya. Itulah sebabnya Ia akan menyertai, memberi kuasa, mencukupkan dan melindungi bahkan menjamin masa depan anak anak kita. Mari kita menjalaninya dengan penuh optimisme. Jikalau ia mengijinkan badai dan gelombang menghadang perjalanan hidup kita, tidak berarti Ia telah meninggalkan kita. Tetapi ia sedang melatih kita untuk menjadi tegar, kuat, dan penuh hikmat. Selamat melayani, jangan berhenti di tikungan, lebih baik terus berjalan meskipun pelan pelan.




40 views

Recent Posts

See All

BELAJAR DARI LAYANG LAYANG

Kelihatannya sederhana namun kaya dengan makna. Hampir semua orang tahu mainan layang layang, namun tidak semua pernah memainkannya. Waktu masih kecil, itulah mainan unggulan di musim kemarau. Saya se

AKU KUAT KARENA FIRMAN

Seorang janda dengan tujuh anak mengakui betapa besar berkat yang ia terima lewat pelayanan Radio Suara Kasih Papua. "Hidup ini terasa sangat berat setelah suami saya meninggal dunia. Saya tidak tahu

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com