LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com

  • Paulus Wiratno

MENGAKHIRI DENGAN SETIA

Tragedi pengkhianatan pertama kali terjadi di sorga. Lucifer atau ‘Sang Bintang Fajar’ pernah melakukan 'ku de ta’. Ia tidak nyaman menjadi pemimpin penyembahan, ia ingin menjadi obyek yang disembah. Hasilnya adalah pengusiran dari sorga dan kehilangan semua hak ‘prerogatif’ sebagai pemimpin ibadah. "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur. (Yes 14:12-14)


Itulah sebabnya sorga tidak pernah menyetujui pengkhinatan. Makanya jangan kaget jika Allah juga membenci ketidak-setiaan. Jiwa pengkhiant bukan sikap ilahi. Allah sering disebut sebagai Allah yang setia. "Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” Untuk itu ketika ada hamba Allah berlaku tidak setia, ia akan langsung berurusan dengan Allah sendiri.


Kasus ‘ketidak setiaan’ para pemimpin agama dalam kitab Maleakhi adalah bukti nyata dimana Allah langsung berperkara kepada para imam yang berlaku tidak setia pada istrinya. Nampak sekali jika para pemimpin agama tidak menyadari jika pengkhinatannya kepada pasangan hidup mendapat perhatian langsung dari sorga. ''Awalnya mereka bertanya tanya sepertu yang tertulis dalam kitab suci. Dan ini perbuatanmu yang lain. Mezbah TUHAN kamu genangi dengan air mata; kamu menangis dan meratap karena TUHAN tidak berkenan lagi menerima kurban-kurbanmu. Kamu bertanya mengapa Ia tidak mau menerimanya. Oleh karena TUHAN tahu kamu tidak setia kepada wanita yang kamu nikahi di masa mudamu. Wanita itu kawan hidupmu, tetapi kamu telah mengkhianati dia, walaupun di depan Allah kamu telah berjanji untuk tetap setia kepada-Nya.’'


Demi menjaga reputasinya, Allah tidak pernah melanggar janjinya. Itulah sebabnya sampai hari ini “setia” masih menjadi nilai nilai inti dari sorga. Bahkan kepercayaan Allah sangat tergantung dari kesetiaan kita menjalankan firmn-Nya. “Barang siapa yang setia dengan yang kecil, akan dipercayakan hal yang besar.” Tahukah anda bahwa waktu masuk sorga kita harus punya ‘pasword’, dan paswordnya adalah ‘’sabaslah hambaku yang baik dan setia.”


Pengkhianatan selalu membawa konsekwensi hukuman. Lucifer dan antek-anteknya diusir dari sorga. Itu artinya, yang namanya pengkhianatan akan menutup pintu akses menikmati berkat sorgawi. Jangan kaget jika Tuhan muak kepada para pemimpin dan tidak menerima persembahan ibadah mereka. Ini sangat berbahaya, untuk apa melayani dan menyembah Tuhan, jika ujung ujungnya semua yang kita lakukan tidak diterima oleh Alah?

Doa kita mentok di langit langit, korban persembahan ditolak, pujian dan penyembahan tidak didengar, pelayanan kita bahkan dianggap sebagai pelecehan mimbar. Sorga tertutup bagi pengkhianat. Jangan kaget jika rejeki seret dan kebahagiaan menjauh dari hidup anda lantaran berlaku tidak setia.


Pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Kualitas kesetiaan menentukan kualitas hubungan kita dengan Allah. Kualitas kesetiaan dengan pasangan hidup menentukan kualitas pelayanan dan pekerjaan kita. Makanya benar kata seorang penulis “The quality of your life is the quality of your relationship.” Dengan yang satu ini jangan pernah dianggap remeh. Jangan sekali kali bermain petak umpet dengan Tuhan. Sehebat hebatnya anda berusaha menyembunyikan pengkhianatan atau perselingkuhan, sorga akan segera tahu. Sadarilah bahwa sorga itu punya banyak CCTV yang selalu mengamati hati dan kelakuan kita. Maka percuma saja menyembunyikannya.


Dalam sebuah perjalanan pelayanan saya dikejutkan oleh sebuah cerita nyata. Konon di negeri antah barantah ada seorang yang mengaku sebagai hamba Allah, namun punya selingkuhan selama bertahun tahun hingga melahirkan anak. Jemaat tidak tahu, istri dan anak anaknya juga tidak tahu, sampai suatu saat Allah membuka kedoknya. Apa jadinya saat Allah menyingkapkan apa yang selama ini tersembunyi? Semua terkejut, heran, marah dan tidak habis pikir. Bagaimana mungkin bapak pendeta bisa berkhianat bertahun tahun? Coba pikir baik baik. Apakah anda mau mengakhiri hidup dengan meninggalkan nama buruk, dicap sebagai hamba Tuhan munafik, tukang selingkuh, parlente? Jujur, aku tidak ingin mengakhiri hidup dengan menjadi batu sandungan bagi generasi yang berikutnya.


Makanya kalau ingin mati dihargai dan dihormati oleh Allah dan anak cucu serta generasi yang berikutnya, ikutilah naehat kitab Amsal. "Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.’' Mari kita mengakhiri hidup dengan senyum, bangga dan bahagia, karena telah menjalani hidup dengan setia. Setia kepada Allah, panggilan hidup, teman hidup dan keluarga kita.


373 views