• Paulus Wiratno

MENGENALI GEJALA DEPRESI VERSI KITAB SUCI

Memahami gejala depresi lebih dini hukumnya wajib. Jika tidak, bahaya ‘menjadi gila beneran’ akan menunggu hidup anda. Mengingkari adanya tekanan jiwa adalah tidak bijak. Setiap manusia akan melakui musim pancaroba. Ada musim air mata, canda tawa dan duka lara. Siklusnya sulit ditebak bagaikan ramalan cuaca yang tidak bisa dipastikan. Namun berbahagialah mereka yang ‘sedia payung sebelum hujan’. Tidak ada ruginya membawa payung saat awan mulai mendung. Beberapa tanda di bawah ini perlu diwaspadai.


CEPAT BERKATA LAMBAT BERPIKIR

Orang yang sedang menanggung tekanan jiwa seringkali diam atau sebaliknya ‘terburu buru berkata kata’. Nabi Ayub mengakui, "Andaikata duka nestapaku ditimbang beratnya, pasti lebih berat daripada pasir samudra. Jadi, jangan heran jika kata-kataku kurang hati-hati serta terburu-buru.” Dalam duka, rasa menjadi lebih nyata. Kemudian kita berkata tanpa fakta. Ucapan demi ucapan mengalir tanpa mikir. Inilah tanda jika ‘jiwa sedang merana’.


MUSUH DATANG DARI SEGALA ARAH

Saat kita berpikir bahwa segalanya serba salah dan musuh datang dari semua arah. Inilah petunjuk yang sangat jelas bawa ada yang salah dengan cara kita berpikir. Tiba tiba mental berubah arah, seorang kita menjadi korban dari semua kenyataan yang ada di depan mata. Lebih bahaya lagi jika cara pandang mulai mengalami distorsi. Bukan hanya alam yang salah, bahkan kita mulai berpikir negatif tentang keadilan Allah. ‘Haruskah hidupku terus begini? Dengan derita yang tiada akhir. Apakah salah dan dosaku?’ Ayub terlalu berani saat mempertanyakan hal ini. “Panah dari Yang Mahakuasa menembus tubuhku; racunnya menyebar ke seluruh jiwa ragaku. Kedahsyatan Allah sangat mengerikan, dan menyerang aku bagai pasukan lawan.”


SELERA MAKAN BERKURANG

Jika anda tidak bersemangat menyantap hidangan yang biasa ada di atas meja makan, ini bisa menjadi pertanda gairah hidup mulai redup. “Tetapi makanan hambar, siapa suka? Mana boleh putih telur ada rasanya? Tidak sudi aku menyentuhnya; muak aku jika memakannya.” Jangan dibiarkan hal ini terjadi terlalu lama. Kesehatan jiwa raga akan jadi taruhannya. Penyakit mag kambuh, tekanan darah melemah dan gula darah mulai naik. Tanda tanda anda sedang stress berat. Waspadalah.


BERPIKIR MENGAKHIRI HIDUP

Jika dipiliran pernah terlintas niat untuk mengakhiri hidup, itu pertanda kita sedang kehilangan gairah hidup. Bukan hanya sekali atau dua kali nabi Ayub berpikir untuk bunuh diri. Ayub juga pernah mengutuki hari kelahirannya. “Terkutuklah malam celaka ketika aku dilahirkan bunda, dan dibiarkan menanggung sengsara. Mengapa aku tidak mati dalam rahim ibu, atau putus nyawa pada saat kelahiranku?” Lebih ngeri lagi saat sang nabi pingin segera mati “Kiranya Allah berkenan meremukkan aku! Kiranya Ia bertindak dan membunuh aku!”


Pelajaran bagi kita semua. Jika nabi yang saleh, jujur, takut Allah masih bisa menhalami depresi, maka kita semua harus waspada. Belajaf dari Ayub, tidak ada manusia yang bebas dari panca roba hidup. Ayub bisa tabah, bertahan menghadapi semua kenyataan pahit, karena imannya yang luar biasa. Untuk itu jangan pernah lupa memberi vitamin iman dengan kebenaran firman. Maka iman yang akan menjadi penolong di masa sulit dalam hidup. Akhirnya aku berani berkata bahwa “kualitas hidup sangat bergantung pada kualitas hidup”



0 views

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com