LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com

  • Paulus Wiratno

MISTERI ILAHI

Satu hari bersama pengungsi di kabupaten Sigi aku menimba banyak inspirasi, bagaikan menemukan butiran emas di tengah belantara. Masing masing tenda menyimpan cerita yang berbeda. Setiap pribadi punya pengalaman yang bisa menyinari hati. Memang mereka tidak pernah bermimpi menjadi seorang pengungsi, namun kenyataan memang sering berbeda dengan harapan. Banyak kejadian yang berlawanan dengan keinginan. Inilah misteri kehidupan anak manusia.


Asten nama panggilannya. Wanita beranak dua ini kehilangan suami dan 10 kerabatnya. Kenyataan hidupnya menyimpan keajaiban yang luar biasa. Seharusnya ia sudah bersama 10 saudaranya di alam baka, namun saatnya belum tiba. Meski setengah badannya sudah terkubur lumpur dan diputar putar selama 6 jam. Ia bisa keluar dari maut berkat pertolongan tangan tangan ajaib yang melihatnya. Meski kaki kirinya patah dan harus berjalan dengan tongkat penyangga, hatinya bisa sedikit lega setiap kali melihat hamparan reruntuhan Petobo. Ia masih bisa menghirup udara. Meski demikian, setiap kali bercerita, selalu ada airmata yang membasahi wajahnya. “Semoga aku bisa berjalan normal seperti sebelumnya, mohon doanya ya pak”. Ucapnya dengan penuh harap.


Di tenda pengungsian warna biru itu hidup seorang anak wanita yang masih balita. Ia sudah terkubur oleh lumpur selama beberapa jam, namun tangan Tuhan menyelamatkan hidupnya. Nadia panggilannya Nadia. Wajahnya manis bearmbut panjang. Meski masih terlalu kecil untuk memahami petaka hidup, Nadia harus menerima kenyataan sebagai yatim piatu. Sekarang ia hidup di tenda dengan nenek, satu satunya anggota keluarga yang masih tersisa. Bertemu Nadia, aku ingin sekali membawanya ke Pondok Mercy Denpasar. Namun sayang keadaan belum memungkinkan.


Satu lagi yang memberi inspirasi di tenda pengungsi. Aku lupa bertanya namanya, namun kisah perjuangan hidupnya saat melawan likuifaksi lumpur Petobo membuat bulu kuduk berdiri. Konon badan pria setengah baya ini sudah berada di dalam lumpur selama dua menit. Ia juga sudah menyerahkan nyawanya kepada Allah yang Maha Kuasa. Bahkan mulutnya sudah mengucapkan kalimat doa siap menghadap Sang Khalik. Namun saat berdoa, tiba tiba ada makluk bercahaya yang mengangkatnya ke permukaan. Sungguh sebuah keajaiban yang masih dikaguminya. Dengan rasa bangga ia bercerita, meski kaki kanannya masih luka.


Mati hidup adalah misteri ilahi. Tidak ada yang tahu kapan jadwal kita tiba untuk menghadap Yang Kuasa. Fakta bahwa hari ini masih hidup, karena masih ada agenda sorga yang perlu dijalaninya. Maka, seberat beratnya pergumulan hidup, sesulit sulitnya masalah yang kita hadapi, jika besok masih bisa menghirup udara segar, berarti Yang Maha Kekal masih mau memakai hidup kita. Bersyukurlah.



42 views