LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com

  • Paulus Wiratno

MULIA PANGGILAN-NYA

Ladang pelayanan bukanlah sebuah tempat pembuangan. Makanya jangan pernah berpikir sidikitpun bahwa melayani sama dengan membuang diri ke ladang Tuhan. Konotasi membuang diri sangat merendahkan. Barang yang dibuang itu nilainya hampir sama dengan sampah atau rongsokan. Setahu saya mereka yang dipanggil untuk memasuki dunia pelayanan adalah orang orang pilihan. Mereka adalah orang yang sudah dikhususkan dan dikuduskan, sama seperti suku Lewi. Istilah militernya adalah KOPASUS. Tidak semua tentara bisa menjadi anggota Komando Pasukan Khusus. Hanya orang orang pilihan yang bisa masuk di sana. Tentu saja mereka harus memenuhi kriteria yang sudah ditetapkan. Merekaa harus memiliki, keahlian, kecerdasan dan instink militer yang tinggi.


Bisa menjadi anggota Baret Merah adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Demikian juga menjadi seorang abdi Allah. Rasa bangga menjadi seorang pelayan harus selalu dijaga karena bisa mempengaruhi kinerja. Brian Tracy pernah mengatakan bahwa "our self image always consistent with our performance," yang artinya gambar diri kita selalu mempengaruhi kinerja kita di pelayanan. Saya melihat rekan rekan yang kurang percaya diri, sering tidak berhasil dalam pelayanan.


Allah menemui Musa dan mengirimnya ke padang gurun selama 40 tahun untuk memperbaiki self imagenya. Itupun belum berhasil seratus persen. Musa masih minder karena kurang fasih berbicara sehingga hampir menolak tugas ilahi. Yesaya sering merasa sebagai seorang nabi yang "najis bibirnya". Gideon selalu berkilah dan merasa kecil dan tidak berdaya.


Nampaknya merasa tidak berdaya dalam menghadapi tuntutan pelayanan bukan hanya masalah para nabi di masa lalu. Karena hasil penelitian membuktikan bahwa lebih dari 90 persen hamba Tuhan di Amerika menederita low self esteem setelah lima tahun melayani. Padahal mereka telah mengenyam pendidikan tinggi dengan gelar master atau doktor. Lalu apa yang menjadi biang keladi dari semuanya itu? Padahal dari segi skill dan pemahaman theologis, mereka sangat hebat. Namun ternyata pendidikan theologis saja tidak cukup untuk menghadapi tuntutan pelayanan masa kini.


Masalah pelayan itu kompleks, karena melayani manusia itu tidak sama dengan "angon bebek" yang cukup di giring ke sawah pagi hari kemudiann di bawa kembali ke kandang pada sore hatinya. Manusia adalah makluk multi dimensi. Masing masing dimensi saling berkaitan erat. Saat seorang bermasalah dengan jiwa, raganya juga terkena dampaknya. Belum lagi berurusan dengan masalah rohani yang tidak bisa dilihat dengan mata.


Itulah sebabnya untuk menjadi seorang pelayan Tuhan, diperlukan panggilan ilahi. Kepekaan roh, kemampuan bekomunikasi, keahlian 'memanage' perasaan dan kehendak harus benar benar dikuasai. Jika tidak, kita bisa mati muda atau mejalani panggilan dengan beban. Jika tidak kita akan menderita penyakit keletihan atau 'burn out'. Sebagian pembaca mungkin pernah menyanyikan lagu yang bersyair seperti ini :


Aku tak'kan melupakan kasih setia-Mu

Aku tak'kan meninggalkan panggilan-Mu Tuhan. Terlalu mulia, oh sungguh berharga

Menjadi hamba sang Pencipta oh sungguh mulia


Syair lagu itu lahir saat saya menghadapi situasi sulit di dalam pelayanan di desa Selopuro-Blitar. Menjadi seorang gembala sidang dengan jemaat 20 orang dengan persembahan 3.500 rupiah per minggu, memang tidak mudah. Namun karena panggilan adalah sebuah keistimewaan kami menjalani dengan sukacita. Hasilnya luar biasa. Kesetiaan itu dihargai oleh Tuhan.


Jika sekarang dipercayakan sebuah pelayanan yang dampaknya mendunia, itu juga karena kasih karunia. Yang jelas semakin hari semakin nyata bahwa panggilan melayani bukanlah sebuah pelarian. Pelayanan juga bukan tempat untuk membuang diri, tetapi memberi diri untuk kemuliaan-Nya. Marilah melayani dengan hati gembira, wajah sukacita dan semangat pengorbanan.



88 views