• Paulus Wiratno

PENYEBAB UTAMA PERCERAIAN



Pagi ini saya membaca surat kabar Tribun Bali dan kaget membaca salah satu judul halaman muka “Cerai Gara Gara Tak Diajak Ke Luar Negeri”. Lebih prihatin lagi membaca ulasan di bawahnya “Tiap Hari Tercatat Ada Dua Pasangan Cerai di Kota Denpasar”. Adapun penyebab perceraian adalah faktor ekonomi, pihak ketiga, kepuasan seks, media sosial, acara reuni dan kurang liburan.

Meningkatnya angka perceraian harus disikapi dengan serius. Karena keutuhan keluarga sangat menentukan kualitas generasi dan masa depan bangsa secara keseluruhan. Siapa yang paling bertanggung jawab untuk memperlengkapi generasi muda dengan pengetahuan yang benar tentang pernikahan? Bukan negara atau KUA, jaksa atau catatan sipil. Gerejalah yang paling bertanggung jawab untuk menyiapkan generasi muda dengan pemahaman yang benar tentang pernikahan.

Dalam Kitab Suci disebutkan bahwa pernikahan itu diciptakan oleh Allah karena agenda ilahi yang sangat mulia. “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.” Allah punya misi melalui pernikahan Anda. Supaya lahir anak anak yang takut dan hormat kepada Allah dan bisa menjadi agen kerajaan Allah.

Tingginya angka perceraian di negeri ini membuktikan bahwa institusi telah gagal membekali pasangan dengan ilmu pernikahan. Maka jangan kaget jika banyak pernikahan carut marut dan berakhir dengan perceraian. Penyebab utama perceraian bukan seks, ekonomi, pihak ketiga atau media sosial. Penyebab utama ketidak bahagiaan dalam pernikahan adalah ‘gagal paham’ tentang arti nikah san cinta.

Sudah saatnya gereja harus memberikan pembekalan ilmu pernikahan. Kalau perlu buat SEKOLAH PERNIKAHAN. Saya usul kepada bapak MENTERI PENDIDIKAN supaya di setiap universitas ada jurusan ‘Pernikahan dan Keluarga’. Alasannya sangat sederhana. Keluarga yang kokoh dan bahagia dibangun di atas hikmat, pengertian dan pengetahuan (Amsal 24:3-4). Konseling pra nikah tiga sesi tidak cukup. Membaca buku pernikahan saja tidak cukup. Diperlukan ‘sekolah’ demi keutuhan dan kebahagian. Kekuarga yang sehat melahirkan negara yang kuat.



224 views

Recent Posts

See All

BELAJAR DARI LAYANG LAYANG

Kelihatannya sederhana namun kaya dengan makna. Hampir semua orang tahu mainan layang layang, namun tidak semua pernah memainkannya. Waktu masih kecil, itulah mainan unggulan di musim kemarau. Saya se

AKU KUAT KARENA FIRMAN

Seorang janda dengan tujuh anak mengakui betapa besar berkat yang ia terima lewat pelayanan Radio Suara Kasih Papua. "Hidup ini terasa sangat berat setelah suami saya meninggal dunia. Saya tidak tahu

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com