• Paulus Wiratno

REALITA CINTA

“Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata.... Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya...'' Cuplikan diatas merupakan ungkapan hati plaing dalam dari pak Suyatno dalam sebuah wawancara TV. Berbicara mengenai cinta, tidak bisa lepas dari pilihan kehendak. Kehendak untuk tetap memegang janji setia di tengah realita yang sering berujung derita. Memang mengucapkan janji setia itu lebih mudah dibanding menjalaninya. Pancaroba hidup berumah tangga tidak banyak yang bisa tahan menghadapinya.


 Tidak heran jika pada tahun 2012 ada lebih dari 285.000 pasangan di Indonesia yang memilih perpisahan dari pada mempertahankan cinta dalam kebersamaan. Dalam masalah hubungan cinta dan kelanggengan ikatan pernikahan, tidak ada istilah garansi seumur hidup. Jika Anda mencari pernikahan bergaransi lebih baik cari batu bateray yang bisa memberi garansi seumur hidup. Benarlah kata Erma Bombeck "Marriage has no guarantees. If that's what you're looking for, go live with a car battery." Jatuh cinta kepada wanita yang sama, berkali-kali dan bertahun tahun memang tidak semudah lagunya Edy Silitong "Jatuh cinta berjuta indahnya, biar siang biar malam amboi rasanya..."  Itulah sebabnya saya begitu kagum dan terharu membaca pernyataan pak Suyatno. Bagaimana dia bertahan dalam cinta lebih dari 25 tahun, padahal istri yang mendapinginya sakit lumpuh dan tidak bisa menjalankan perannya sebagai seorang istri dan sekaligus bunda untuk keempat anaknya.  Semua anaknya pernah membujuk sang ayah untuk menikah lagi demi hari tuanya. Komitmen pak Suyatno untuk tetap mendampingi belahan jiwanya layak dijadikan contoh oleh semua manusia yang mengharagi arti cinta. Esensi cinta yang sebenarnya adalah pengorbanan. Jika kita mencitai seseorang dan hanya mau mengharapkan yang terbaik dan tidak mamu memberi yang terbaik, maka cinta itu tidak akan bertahan lama. Esensi cinta agape adalah memberi bukan meminta.  Jenis cinta yang selalu memberi itu bukan berasal dari manusia, tetapi dari Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.  Dialah sumber cinta dan kasih sayang. Itulah sebabnya saat pernikahan mulai mengalami 'musim dingin', sudah sewajarnya melakukan 'pembaharuan cinta'.  Bukankah pernikahan itu adalah idenya Tuhan? Ketika Tuhan mengatakan bahwa 'Laki laki akan meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya...', Ia juga memberikan kemampuan untuk terus bersatu. oleh karena itu saat kita mengalami defisit cinta, datanglah kepada Tuhan.

Itulah yang dilakukan oleh pak Suyatno setiap kali menghadap Tuhan dalam sembahyang "Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya “BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”



139 views

Recent Posts

See All

BELAJAR DARI LAYANG LAYANG

Kelihatannya sederhana namun kaya dengan makna. Hampir semua orang tahu mainan layang layang, namun tidak semua pernah memainkannya. Waktu masih kecil, itulah mainan unggulan di musim kemarau. Saya se

AKU KUAT KARENA FIRMAN

Seorang janda dengan tujuh anak mengakui betapa besar berkat yang ia terima lewat pelayanan Radio Suara Kasih Papua. "Hidup ini terasa sangat berat setelah suami saya meninggal dunia. Saya tidak tahu

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com