• Paulus Wiratno

SAYALAH MASALAHNYA

Ternyata sumber konflik paling dominan dalam pernikahan bukanlah uang, seks, komunikasi atau pihak ketiga. Menurut Ps. Timotius Arifin, “SAYA” adalah sumber utama penyumbang konflik dalam hubungan. Ketika ‘saya’ menjadi yang utama, ‘kita’ tersisih dengan sendirinya. Padahal pernikahan adalah persatuan antara ‘saya’ dan ‘kamu’ alias kita.


Hampir semua konflik, kemarahan dan keretakan disebabkan oleh ‘ego’ yang dibiarkan medominasi jiwa. “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi...” Untuk meredam sekaligus menghindari konflik dan perselisihan, setiap pasangan harus bersedia melakukan beberapa langkah berikut ini.


MENGANTI ‘SAYA’ DEGAN ‘KITA’

Kalau sudah bicara tentang pernikahan dan keluarga maka bahasa yang dipakai adalah ‘KITA’. Kata itu mengandung kebersamaan dalam perbedaan. Untuk itu ego pribadi atau ‘saya’ harus rela menjadi nomer dua. Disinilah yang namanya perbedaan selera warna, rasa dan harga tidak lagi menjadi masalah. Makan benar apa kata teman ‘Kalau mau jalan cepat jalanlah sendiri. Tetapi kalau mau jalan jauh, mari kita jalan bersama.


MENDAMAIAKN KEINGINAN DENGAN KENYATAAN.

Jika realita tidak sesuai dengan harapan, jangan marah dan memamsakan kehendak. Cepat cepat menerima kenyataan yang ada. Boleh kecewa sejenak, tatapi jangan lama lama. Belajar mengaukuri apa yang ada, yang terjadi dalam hidup ini. Bisa menerima setiap kenyataan hidup berarti anda sudah mengantongi 60% persen kebahagiaan. Semua yang kasad mata berubah. Hanya ada satu yang tidak pernah berubah, yaitu perubahan itu sendiri.


KEMBALILAH PADA AMANAH

Untuk apa alah menciptakah pernikahan? Jawababnya ada dalam kitab Maleakhi Malachi “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Yang namanya persatuan berati siap meninggalkan ego demi tercapainya tujuan. Maka pria akan meninggalkan ayah dan ibunya dan ‘BERSATU’ dengan istrinya. Jangan terlalu banyak menggunakan ‘saya’ atau menonjolkan ‘saya’ jika pernikahan ingin lebih bahagia. Selamat mencoba.



25 views

Recent Posts

See All

BELAJAR DARI LAYANG LAYANG

Kelihatannya sederhana namun kaya dengan makna. Hampir semua orang tahu mainan layang layang, namun tidak semua pernah memainkannya. Waktu masih kecil, itulah mainan unggulan di musim kemarau. Saya se

AKU KUAT KARENA FIRMAN

Seorang janda dengan tujuh anak mengakui betapa besar berkat yang ia terima lewat pelayanan Radio Suara Kasih Papua. "Hidup ini terasa sangat berat setelah suami saya meninggal dunia. Saya tidak tahu

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com