LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com

  • Paulus Wiratno

SIAP DISAKITI

Salah satu ujian hidup adalah siap disakiti oleh perkataan orang. Nabi Ayub pernah curhat manakala hati terluka gara gara kata kata sahabatnya. “Mengapa aku terus kamu kecam, dan kamu siksa dengan perkataan? Berkali-kali kamu menghina aku, dan kamu aniaya aku tanpa rasa malu. Seandainya salah perbuatanku, itu tidak merugikan kamu. Kamu pikir dirimu lebih baik daripadaku; susahku kamu anggap bukti kesalahanku.”

Manarik untuk disimak, yang menyakiti Ayub adalah para sahabat dekatnya. Merka adalah Bildad, Elifas dan Sofar. Seharusnya mereka tahu etika kunjungan orang sakit. Saaat mengunungi orang yang sedang dirundung kemalangan, yang mereka perlu adalah kata kata dorongan. Bukan kata yang memojokan, menghakimi dan menjatuhkan.


Inilah kenyataan hidup yang harus kita hadapi dengan lapang dada. Tidak semua orang punya tenggang rasa, tepi sliro atau etika berkata. Maklum saja, kedua tangan kita tidak berkuasa membungkam mulut mereka. Setiap orang bisa berucap ‘sak kerepe dewe’. Ada orang yang hobinya ‘nyacat orang lain’. Ada pula yang sesang melukai hati sesama dan tidak pernah menyadarinya.


Lalu bagaimana sikap kita menghadapi prilaku dan ucapan mereka? Menjauh dari orang fasik demi menjaga kerenanga batin adalah langkah bijaksana. Tidak bergabung dengan tukang gosip adalah pilihan yang benar. Tidak meladeni atau menanggapi ejekan mereka adalah respon elegan. Dan jangan pernah mengijinkan perkataan mereka singgah di hati anda.


Jagalah hatimu dari segala kewaspadaan, termasuk ucapan yang mengandung racun atau virus. Pasang filter di depan ruang hati anda. Ingat baik baik, anda sakit atau tidak, yang menentukan adalah anda sendiri. Semua sakit hati dimulai dari mengijinkan ‘makan hati’



123 views