• Paulus Wiratno

TABAH DITENGAH MUSIBAH


Kehidupan ini punya musim. Ada musim sukacita ada pula dukacita, ada canda tawa, ada pula airmata. Ada waktu mendapatkan ada pula saat kehilangan. Semua datang silih berganti. Sama seperti pohon yang bisa menyesuaikan cuaca, kitapun harus bisa mengantisipasi pancaroba. Di musim gugur, pohon siap kehilangan dedaunan, di musim dingin harus berselimut salju namun saat musim semi tiba, daun akan tumbuh dan bunga akan mekar kembali.





Demikianlah dengan hidup ini. Ada saatnya kita mengunpulkan dan ada pula saat kita harus berani kehilangan. Ketika nabi Ayub kehilangan 7.000 kambing, 3000 unta dan 1000 lembu, ia tidak protes dan complain kepada Allah. Bahkan waktu ia mendengar bahwa 10 anaknya mati karena gempa bumi, Ayub hanya bersujud sambil mengucapkan kalimat pasrah “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Hati yang tabah membuat manusia mampu menghadapi segala musibah dan masalah. Ketabahan adalah produk keyakinan.



Ketabahan Ayub menghadapai kehilangan, sakit lepra ganas, pengkhianatan teman dan kata kata yang menyakitkan didapatkan dari imannya yang luar biasa. Ia yakin bahwa apa yang dimiliki adalah dari Allah, maka ketika Alah mengijinkannya untuk kehilangan, Ayub bisa mengatakan kata kata yang menakjubkan “Terpujilah nama Tuhan”.


Untuk saudara saudariku di Sentani yang sedang dilanda bencana banjir bandang, jangan putus asa atau mengeluh dengan ‘tragedi’ yang sedang diijinkan lewat dalam hidup. Ingatlah bahwa semua yang terjadi tidak pernah lepas dari kontrolnya Allah. Jangan lupa dengan apa yang pernah diajarkan oleh rasul Paulus


Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”


Memang tidak mudah menghadapi kehilangan orang tua, anak, kekasih dan sahabat yang kita cintai. Namun inilah bagian dari kenyataan hidup. Bersiap siaplah untuk kehilangan, ditinggalkan, dikhianati dan disalahmengerti. Kita semua akan kehilangan apa yang bisa dilihat oleh mata dan diraba atau dirasa dengan indera. Namun Tuhan tidak akan menbiarkan

kita terus berduka.


Allah bisa mengubah ratapan menjadi tarian. Ia bisa mebuat air mata menjadi pupuk bagi kekuatan batin. Serahkan semua kepada-Nya. Sujud syukur dalam kasih-Nya. Maka anugerah Allah akan menaungi kita semua. Itulah doaku untuk semua saudara di Sentani yang terkena musibah.

0 views

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com