LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com

  • Paulus Wiratno

TABAH MENANGGUNG PENDERITAAN


“Semoga dengan kuasa dari Allah yang agung, kalian dikuatkan sehingga kalian sanggup menderita segala sesuatu dengan sabar dan senang hati.” (Kolose 1:11)

Sekilas membaca isi suratnya, aku merasakan kekuatan batin yang luar biasa. Tidak mudah untuk bisa memberi kata kata dorongan saat kita sendiri sedang hidup dalam lembah kekelaman. Namun statusnya sebagai ‘nara pidana’ tidak bisa menghentikan dia dari tugasnya yang mulia. Sebagai bapak rohani, rasul Paulus memiliki kerinduan agar umat Allah memiliki kekuatan ilahi dalam menghadapi segala kesukaran hidup.


Kata ‘kuasa’ yang dipakai adalah ‘dunamos’ yang artinya ‘enabling power’ yaitu kekuatan yang membuat anda mampu menghadapi kesulitan demi mencapai tujuan. Sebagai bapak rohani ia sadar bawa tanpa kekuatan ilahi, kita tidak akan mampu menjalani perjalanan iman ditengah tengah aniaya dan penderitaan. Gelar, jabatan, talenta dan kehebatan manusia tidak bisa diandalkan dalam mempertahankan iman.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus pernah berpesan kepada para murid untuk menunggu di kamar loteng sampai dipenuhi dengan ‘kuasa Roh Allah’. Hasilbya sungguh luar bisa, hampir semua murid bertahan mengadapi kesulitan dan aniaya. Bahkan menjadi suhada demi mempertahankan iman mereka. Kekuatan Allah membuat mereka tabah, kuat, sabar, dan tidak mudah menyerah.


Semua yang ingin memiliki hati yang tabah dan hati penuh dengan sukacita di tengah derita, harus selalu berdoa meminta kekuatan Roh Allah. Sama seperti kapas yang dicelupkan ke mintak goreng. Tidak mudah hangus terbakar, tetapi bertahan lama hingga minyak habis. Demikian juga orang yang hidupnya dipenuhi oleh kekuatan Roh Allah.


Tetapi Stefanus yang dikuasai oleh Roh Allah, memandang ke langit. Ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di tempat berkuasa di sebelah kanan Allah.... Lihat," kata Stefanus, "saya melihat surga terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah!" Anggota-anggota mahkamah itu menutup telinga mereka sambil berteriak-teriak, lalu serentak menyerang Stefanus. Mereka menyeret dia ke luar kota kemudian melemparinya dengan batu. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu menitipkan pakaian mereka pada seorang muda yang bernama Saulus. Sementara mereka melempari Stefanus, Stefanus berseru, "Tuhan Yesus, terimalah rohku!" Lalu ia berlutut dan berteriak dengan suara yang keras, "Tuhan, janganlah dosa ini ditanggungkan ke atas mereka!" Sesudah mengatakan begitu ia pun mati.”




72 views