• Paulus Wiratno

PRIA YANG TERLUKA

Terminal menyimpan banyak cerita. Mereka yang datang dan pergi punya kisah hidup yang berbeda. Ada wajah ceria saat meninggalkan bandara, ada pula yang meneteskan airmata saat berjumpa dengan cerita duka. Hidup di dunia bagaikan singgah di bandara. Hanya sebentar, sementara, singgah untuk menunggu perjalanan berikutnya. Duduk sebentar, minum kopi dan menikmati sebungkus kentang goreng, kemudian terbang lagi. Tidak ada bekas jejak kaki, yang ada hanya memori dan pelajaran hidup untuk masuk ke terminal berikutnya.


Aku tiba di terminal JFK New York tepat jam 12.30 malam, tiga jam lebih lambat dari jadwal yang seharusnya. Semua gara gara badai yang mengganggu jadwal penerbangan. Tidak sedikit yang dibatalkan dan banyak yang menunda penerbangan. Meski aku ketinggalan pesawat berikutnya menuju Hong Kong, aku harus belajar menysukuri semua yang terjadi. Dibenak ini hanya ada kata penghiburan 'Tuhan turut bekerja dalam segala perkara, untuk memdatangkan kebaikan..."


Bukan kebetulan saat aku mau berbaring di terminal 8, disampingku ada pria umur 60an yang baru kabur dari rumah karena bertengkar dengan pasangannya. Namanya Ruben, berasal dari Armenia. Matanya terlihat lelah, keriput diwajahnya bicara tentang goresan rasa kecewa. Ruben datang ke terminal melarikan diri dari konflik batin. Ia ingin terbang jauh menghindari dan melupakan kepahitan yang selama ini bersarang di dada.


Ia mengaku sudah pernah menikah dengan dikaruniai dua anak, namun sayang pernikahannya kandas dalam perceraian yang menyakitkan. Dua tahun yang lalu ia mencoba hidup dengan seorang wanita demi merajut cintanya yang terluka. Namun sayang, ia harus terluka kembali. Ruben tidak tahu bahwa perceraian itu meninggalkan bekas luka yang sulit disembuhkan. Menurut sebuah buku Renovating Your Marriage, luka perceraian bisa bersarang sampai 15 tahun. Jika luka belum sembuh dan menikah lagi, maka kemungkinan bercerai sangat tinggi, hingga mencapai 75 persen." Itulah sebabnya Kitab Suci mengatakan kalau Allah membenci peerceraian. Pengkhianatan menghancurkan indahnya cinta, melukai jati diri dan meninggalkan luka batin.


Aku coba menasehati Ruben, luka batin tidak bisa diselesaikan dengan vodka yang ada di tangan kanannya. Kepahitan tidak bisa dipendam dengN meneguk kopi manis setiap pagi. Konflik hubungan tidak bisa dibawa ke bandara. Mendengar nasehatku, ia mencoba membela diri. Sambil curhat, ia meteskan airmata. Tidak disangka pria yang gagah dan perkasa itu nangis ngguguk seperti anak kecil. Sesekali ia menghapus airmatanya dengan tisue warna putih.




Aku coba memberikan jalan keluar "Ruben, satu satunya jalan untuk pulih dari kepahitan adalah pengampunan. Bersediakah Anda mengampuni mantan isteri dan wanita yang telah melukai hatimu"? Ruben menggelengkan kepala. Katanya "It is imposiible to forgive and I will never forgive my ex wife and my partner." Kataku "semua terserah Anda, tetapi kalau anda didigit ular, apakah Anda mau pergi ke dokter untuk menghilangkan racun atau cari kayu mengejar ularnya?"


Ruben tidak menjawab. Nampak sekali dia sedang bingung. Ia tidak pernah menyangka bahwa menyimpan kepahitan itu bagaikan meminum racun serangga. Lambat atau cepat akan celaka. "What shall I do" Ruben bertanya sambil meletakan botol vodka di samping kanannya. "stop drinking, ask God to fill your heart with forgiveness." Dengan jujur ia menjawab "I do not believe in God". Mendengar itu aku langsung memperkrbaljan Yesus dan kuasa kasih-Nya yang sanggup memulihkan dan menyembuhkan.


Lebih dari 15 menit, aku coba menjelaskan betapa hidup manusia yang rapuh tanpa kasih Allah. Bagaimana mungkin seorang pria bisa memberi pengampunan jika ia belum pernah menerima pengampunan ilahi?


Sayang sekali, Ruben mengeraskan hati. Ia tidak bersedia memgampuni mantan isteri. Ia meninggalkan tempat duduknya lalu jalan kaki sambil menahan sakit hati. Ia mengeraskan hati hanya demi gengsi dan harga diri. Ruben belum menyadari bahwa racun sakit hati itu akan segera membunuh sukacita, merampok kebehagiaan hidup. Hidup ini hanya sekali, mengapa mengijinkan luka batin sembunyi di hati? Alangkah indah hidup ini jika kita bebas dari sakit hati. Hidup jadi ringan, tidak ada beban. Belajarlah memberi pengampunan.....


109 views

Recent Posts

See All

BELAJAR DARI LAYANG LAYANG

Kelihatannya sederhana namun kaya dengan makna. Hampir semua orang tahu mainan layang layang, namun tidak semua pernah memainkannya. Waktu masih kecil, itulah mainan unggulan di musim kemarau. Saya se

AKU KUAT KARENA FIRMAN

Seorang janda dengan tujuh anak mengakui betapa besar berkat yang ia terima lewat pelayanan Radio Suara Kasih Papua. "Hidup ini terasa sangat berat setelah suami saya meninggal dunia. Saya tidak tahu

LC Intan II. Gang IV. no 1. Denpasar-Bali 80239

081337495094

©2018 by Paulus Wiratno. Proudly created with Wix.com